• Sabtu, 22 Januari 2022

Akibat Ekspor Tambang 'Bocor' ke China, Negara Merugi Puluhan Miliar Dollar

- Kamis, 14 Oktober 2021 | 13:45 WIB
ILustrasi Foto Pertambangan dengan peralatan berat untuk melakukan eksploitasi hasil tambang (Darkmoon_Art dari Pixabay )
ILustrasi Foto Pertambangan dengan peralatan berat untuk melakukan eksploitasi hasil tambang (Darkmoon_Art dari Pixabay )

STRATEGI.ID -Dunia pertambangan Indonesia memiliki profil yang sangat luar biasa, banyak sekali manfaat yang akan diperoleh dengan pengelolaan tambang secara profesional.

Salah satu contoh data dari  Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), sumber daya batu bara Indonesia sebesar 148.702,08 juta ton. Sementara cadangan batu bara mencapai 39.559,61 juta ton.

Sebelumnya data dari Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) Indonesia menduduki peringkat ke-6 sebagai negara yang kaya akan sumber daya tambang. Selain itu, dari potensi bahan galiannya untuk batubara, Indonesia menduduki peringkat ke-3 untuk ekspor batubara, peringkat ke-2 untuk produksi timah, peringkat ke-2 untuk produksi tembaga, peringkat ke-6 untuk produksi emas.

Baca Juga: Klassen Perkuat Rolls Royce Cullinan Dengan Armor Anti Peluru

Namun semua itu belum dapat dimanfaatkan sepenuhnya demi kepentingan orang banyak sesuai yang diamanatkan UUD 1945.

Ekonom senior Faisal Basri memerkirakan Indonesia mengalami kerugian hingga ratusan triliun rupiah akibat 'kebocoran' dalam ekspor sektor pertambangan ke China.

"Lima tahun terakhir kerugian negara itu sudah ratusan triliun rupiah,” ujar Faisal dalam CORE Media Discussion bertajuk “Waspada Kerugian Negara dalam Investasi Pertambangan”, Selasa (12/10/21).

Baca Juga: Minum Air Putih Selain Bermanfaat, Namun Pahami Juga Bahayanya

Ekspor bijih nikel ore and concentrate pada 2020, contohnya. Kendati pemerintah melarang ekspor bijih nikel, begitu juga data BPS yang tidak mencatat ekspor komoditas dengan kode HS 2604, Faisal menyampaikan bahwa data General Customs Administration of China mencatat impor komoditas HS 2604 sebanyak 3,4 juta ton dari Indonesia.

Menurut Faisal, kebocoran ekspor bijih nikel itu mencapai 193,6 juta dolar AS atau sekitar Rp2,8 triliun. “Setara dengan Rp2,8 triliun kalau kursnya (per dolar AS) Rp14.577 rata-rata Jisdor 2020,” jelas dia.

Halaman:

Editor: Antonius Danar

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Data Masyarakat PBI Antar Kementerian Tidak Sinkron

Rabu, 24 November 2021 | 20:00 WIB

MUI Mengharamkan Uang Kripto, Media Dunia Heboh

Sabtu, 13 November 2021 | 12:00 WIB

LPEI Tingkatkan Devisa Bali dengan Garam Kusamba

Rabu, 10 November 2021 | 10:00 WIB

Jadikah Ibu Kota Pindah, Bagaimana Anggarannya?

Rabu, 13 Oktober 2021 | 17:45 WIB
X