• Selasa, 5 Juli 2022

Pasar Murah di Lampung, Erick: Bukti BUMN Hadir di Tengah Masyarakat

- Selasa, 10 Mei 2022 | 21:00 WIB
Menteri BUMN, Erick Thohir saat menyaksikan operasi Pasar Murah sekaligus halal bihalal dengan warga (kemenBUMN)
Menteri BUMN, Erick Thohir saat menyaksikan operasi Pasar Murah sekaligus halal bihalal dengan warga (kemenBUMN)

STRATEGI.ID - Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menggelar pasar murah untuk kedua kalinya di Provinsi Lampung bersama PTPN Group. Kegiatan pasar murah dipusatkan di halaman Gedung Pertemuan Komplek PTPN VII, Lampung, Selasa (10/05/22).

Operasi pasar dihadiri langsung oleh Menteri BUMN Erick Thohir, Gubernur Lampung Arinal Djunaidi, Wali kota Bandar Lampung Eva Dwiana, Direktur Umum Holding Perkebunan Nusantara Doni P Gandamihardja, dan Direktur PTPN VII Ryanto Wisnuardhy beserta jajaran manajemen PTPN VII.

Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan, operasi pasar murah yang diinisiasi Kementerian BUMN ini sudah digelar sejak awal ramadhan.

Baca Juga: Asnawi Siap Berkontribusi Saat Hadapi Timor Leste

Erick mengatakan, BUMN tak hanya berfungsi sebagai korporasi, melainkan juga menjadi penyeimbang dalam perekonomian Indonesia, termasuk bagi masyarakat yang membutuhkan harga terjangkau. Hal itu dilakukan guna mendorong pemerataan dan keseimbangan pasar.

"Alhamdulillah, saya dengan Pak Gubernur dan PTPN ini mungkin sudah kedua kali, kita ingin membantu kebutuhan masyarakat untuk mendapat akses bahan pangan seperti hari ini minyak goreng (migor) dan gula yang harganya di bawah harga pasar," ujar Erick.

Dalam operasi pasar tersebut, ucap Erick, BUMN menyediakan minyak goreng dan bahan pokok dengan harga terjangkau. Rinciannya, 3 ribu liter minyak goreng Nusakita dengan harga Rp 19 ribu per liter, gula pasir Nusakita dengan harga Rp 11 ribu per kg dan 250 kg beras yang dijual dengan harga Rp 15 ribu untuk 2,5 kg.

Erick menyampaikan operasi pasar merupakan bentuk intervensi BUMN dalam menjaga keseimbangan harga yang terjangkau bagi masyarakat. Tentu, ucap Erick, BUMN tidak bisa sendirian, melainkan membutuhkan peranan swasta. Pasalnya, lanjut Erick, produksi migor BUMN hanya empat persen dan sisanya berasal dari swasta. Sementara untuk gula, lanjut Erick, produksi BUMN relatif lebih besar mencapai 45 persen.

Baca Juga: Indonesia Pasang Target Menang Hadapi Timor Leste

"Hari ini (operasi pasar) masih yang kemasan tapi yang kemasan saja bedanya sama harga pasar Rp 6 ribu, angka luar biasa. Kalau BUMN hanya kejar keuntungan kita tidak jualnya Rp 19 ribu tapi Rp 24.500. Untuk gula lebih murah Rp 2.500, kalau kejar keuntungan kita jualnya hanya lebih murah 500 perak," ucap Erick.

Halaman:

Editor: Bobby San

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X