• Minggu, 28 November 2021

Tak Usah Malu Kepada Risma

- Selasa, 5 Oktober 2021 | 21:05 WIB
Tak Usah Malu Kepada Risma (Dok pribadi)
Tak Usah Malu Kepada Risma (Dok pribadi)

STRATEGI.ID - Risma berulah lagi. Tidak marah-marah kepada stafnya atau warga. Tidak sujud-sujud di kaki dokter. Tidak juga mencium kaki takmir masjid.

Kali ini ulah yang lain. Risma menyapu halaman yang kotor. Pada saat kunjungan kerja, sebagai Menteri Sosial. Dilakukannya di Pariaman. Tepatnya di halaman depan kompleks makam Syekh Burhanuddin, Ulakan.

Ceritanya: selesai memberikan bantuan di seputaran spot wisata religi andalan Pariaman itu, Risma mengunjungi makam Syekh. Dia melihat sampah. Sapu lidi dimintanya kepada seorang warga. Menyapulah mantan wali kota Surabaya itu, sekitar 10 menit lamanya.

Baca Juga: PDI Perjuangan: Tanggapi Protes Risma, Hindari Ego Kepemimpinan, Rakyat Sedang Susah

Banyak respon atas ulah Risma. Ada yang mencimeehnya. Ada yang merasa dipermalukan Risma: serasa kening lebarnya ditokok dengan terompa jepang oleh Risma. Ada pula yang menyalahkan pejabat-pejabat yang melongo saja melihat Risma bereaksi. Banyaklah pokoknya.

Respon saya agak ganjil. Saya justeru bersyukur. Risma diterima alami di Ulakan: apa adanya. Tidak ada yang disuruk-surukkan. Tidak sebagaimana biasanya: semuanya dibagus-baguskan ketika pejabat datang. Penuh rekayasa.

Demi membesarkan hati pejabat yang berkunjung, yang biasanya berantakan dirapikan. Yang sehari-hari kotor dibersihkan sebersih-bersihnya. Bila perlu, toilet yang akan dipipisi pejabat boleh dijilat lantainya saat itu. Begitulah praktiknya selama ini.

Baca Juga: Menteri Sosial Risma, Kaget Ada Data Anggaran Terpadu

Dalam penilaian juara-juaraan juga begitu. Kota sangat bersihnya ketika tim penilai Adipura datang. Belum lagi hidup mesin kapal terbang yang akan membawa tim penilai balik ke Jakarta, kota sudah berantakan lagi. Sampah sudah mulai diserak-serakkan. Lapak-lapak PKL sudah boleh lagi didirikan di atas trotoar. Begitu terus. Terjadi sambung menyambung dari masa ke masa.

Dulu kita pernah dicimeeh oleh budayawan hebat AA Navis soal suruk-menyurukkan fakta, dalam sebuah cerpennya. Kalau tidak salah judulnya Orde Lama. Ditulisnya tahun 1976. Karena presiden mau datang, semua yang buta huruf harus diungsikan ke hutan. Begitu cimeeh AA Navis dalam cerpennya itu.

Halaman:

Editor: Bobby San

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Dukung Penghapusan Kekerasan Seksual

Minggu, 14 November 2021 | 18:30 WIB

Kemuliaan Akhlak dan Keteladanan

Selasa, 19 Oktober 2021 | 16:00 WIB

Atasi Pinjaman Online, Jamin Hak Dasar Rakyat!

Minggu, 17 Oktober 2021 | 23:00 WIB

Utang 'Tersembunyi' dari China?

Sabtu, 16 Oktober 2021 | 00:00 WIB

Jokowi Membuat Banyak Orang Gila

Selasa, 12 Oktober 2021 | 20:00 WIB

Krisis Energi vs EBT & Covid

Jumat, 8 Oktober 2021 | 15:45 WIB

Mati Berdiri Ala Indonesia

Rabu, 6 Oktober 2021 | 10:00 WIB

Tak Usah Malu Kepada Risma

Selasa, 5 Oktober 2021 | 21:05 WIB

Sejarah Kelam GESTOK di Indonesia

Selasa, 5 Oktober 2021 | 09:15 WIB

Giring Bermental Miring, Anies Tetap Humanis

Kamis, 23 September 2021 | 11:45 WIB

Hentikan Konflik Petani

Rabu, 22 September 2021 | 19:00 WIB
X