• Selasa, 5 Juli 2022

Antara Bongbong dan Cendana

- Minggu, 15 Mei 2022 | 14:00 WIB
Aktivis 98 Aznil Tan, Antara Bongbong dan Cendana (Facebook Aznil tan)
Aktivis 98 Aznil Tan, Antara Bongbong dan Cendana (Facebook Aznil tan)

STRATEGI.ID - Miris memang! Anak mantan diktator dan koruptor Ferdinand Marcos Sr yang digulingkan dari kekuasaan dan diusir dari Filipina pada 1986 dalam Revolusi EDSA tetapi anaknya Marcos Jr menang telak dalam Pemilu Presiden (Pilpres) Filipina 2022.

Terpilihnya Marcos Jr yang akrab dipanggil Bongbong menjadi Presiden Filipina ini adalah sebuah anomali sosial. Praktek korupsi yang dikutuk manusia tetapi rakyat Filipina tidak menganggap perbuatan korupsi ayahnya Marcos Junior ini sebuah kejahatan. Esensi sejarah revolusi EDSA dalam penumbangan rezim Marcos begitu mudah hilang di rakyat Filipina.

Nampaknya, peristiwa Ferdianand Bongbong ini tidak tertutup kemungkinan akan terjadi juga di Indonesia. Indonesia dan Filipina sama-sama pernah memiliki sejarah mendapat rezim koruptor dan koruptor kelas kakap. Sejak Soekarno tumbang pada peristiwa berdarah 1965 dan digantikan oleh Soeharto.

Baca Juga: Liga 1 Indonesia, Bocoran Dari Tim PSM Makassar

Selama 32 tahun (1967 - 1998) Soeharto
berkuasa akhirnya ditumbangkan oleh gerakan reformasi dipelopori oleh mahasiswa. Setelah 3 hari Gedung MPR/DPR diduduki mahasiswa, Soeharto mengumumkan dirinya lengser keprabon.

Dalam era reformasi, sistem politik pun berubah total yaitu, sistem demokrasi memberikan hak kebebasan setiap warga negara Indonesia untuk berpolitik. Setiap WNI memiliki hak memilih dan dipilih dalam dunia politik. Meski WNI itu berasal dari keluarga dan kroni rezim Soeharto tapi hak politiknya tidak dikebiri dan juga memiliki hak untuk bisa mencalonkan diri sebagai presiden RI atau legislatif. Syarat presiden harus orang Indonesia asli juga dihapus dalam amademen UUD 1945.

Pemilu ulang 1999 untuk mengakhiri pemerintahan transisi Presiden BJ.Habibie yang menggantikan Soeharto, keluarga Cendana sempat menghilang dari panggung politik. Namun pada 2002, Hardiyanti Rukmana yang populer dipanggil Tutut selaku anak sulung Soeharto lalu membentuk Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB) dan dinyatakan lulus oleh KPU sebagai partai peserta pemilu 2004. Namun partai ini tidak lolos karena hanya memperoleh suara sebesar 2,11% dari syarat Parliamentary threshold sebesar 3%. Sehingga Tutut tidak bisa mencapres.

Pada pemilu 2009, PKPB mengubah namanya menjadi Partai Karya Pembangunan Bangsa dengan perolehan suara 1,4%. Namun keluarga Cendana sepertinya tidak pernah menyerah membangkitkan kembali kejayaan Dinasti Soeharto ini.

Baca Juga: Persib Bandung Adakan Seleksi Untuk Pemain Asia

Pada Pemilu 2014 bukan partai PKPB saja yang hadir untuk merebut kekuasaan. Mereka mendirikan 2 partai baru yaitu, Partai Nasional Republik (Nasrep) yang dibina oleh Hutomo "Tommy" Mandala Putra Soeharto dan Partai Karya Republik (Pakar) Ari Sigit Soeharto. Namun ketiga partai ini tidak lolos verifikasi administrasi Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Halaman:

Editor: Bobby San

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Keraton, Kebudayaan Nusantara, dan Pancasila

Jumat, 1 Juli 2022 | 20:00 WIB

Anies Mengusung Politik Ahlak Bukan Identitas

Rabu, 29 Juni 2022 | 15:00 WIB

Miskin Ahlak dan Kefakiran Jiwa

Minggu, 26 Juni 2022 | 16:30 WIB

Jubir PRIMA: Megawati Gagal Paham Soal Papua

Jumat, 24 Juni 2022 | 19:30 WIB

Bung Karno, Pancasila, dan Endeh

Senin, 6 Juni 2022 | 11:34 WIB

Aktivis Jakarta Raya Bergerak!

Minggu, 5 Juni 2022 | 14:10 WIB

Demi Marwah Partai, Puan Maharani Harus Capres

Kamis, 2 Juni 2022 | 20:00 WIB

Surat Terbuka Kepada Ibu Megawati Soekarno Putri

Minggu, 29 Mei 2022 | 19:00 WIB

Memahami Fenomena Elon Musk dan Kaos Oblong

Minggu, 29 Mei 2022 | 12:00 WIB

Prestasi Tak Tertandingi Ciptakan Oligarki

Sabtu, 28 Mei 2022 | 23:30 WIB

Gerpolek di Kandang Banteng

Jumat, 27 Mei 2022 | 17:35 WIB

Kado Terindah PAN Pasca 24 Tahun Reformasi

Senin, 23 Mei 2022 | 21:00 WIB

Pemilu 2024 dan Konsolidasi 'Celeng'

Senin, 23 Mei 2022 | 17:00 WIB

Lestarikan Alam Dengan Cara Nuswantara

Minggu, 22 Mei 2022 | 23:30 WIB

Rumah untuk Korban

Rabu, 18 Mei 2022 | 19:30 WIB
X