• Selasa, 26 September 2023

Ketum Projo Mengancam Siapa? Partai, Perbedaan, Demokrasi Atau Konstitusi

- Sabtu, 13 Agustus 2022 | 12:50 WIB
Adian Napitupulu / Sekjen PENA 98 (Persatuan Nasional Aktivis 98) (Ist)
Adian Napitupulu / Sekjen PENA 98 (Persatuan Nasional Aktivis 98) (Ist)

STRATEGI.ID - Pernyataan bernada ancaman dari Ketua Umum Projo "Karena kalau kalah meleset, bos, masuk penjara," akan berdampak panjang termasuk berpotensi menguatnya polarisasi bahkan bisa merusak kualitas proses demokrasi karena demokrasi yang sehat hanya bisa tumbuh jika proses politik elektoral berjalan dalam kegembiraan bukan dalam ancaman dalam segala macam bentuknya.

Mengkaitkan kalah menang Pemilu dengan Penjara disisi lain bisa diartikan bahwa Projo menuding Presiden Jokowi selama 2 Periode gagal memisahkan penegakan hukum dan pilihan politik dengan kata lain penegakan hukum ditentukan oleh siapa yang menang dalam Pemilu.

Kalimat ketum Projo itu kenapa bisa serupa dengan mind set orde baru yang menggunakan ancaman hukum dalam hal ini penjara pada partai politik dan siapapun yang berbeda pilihan politik dengan Orde Baru. Tentu sangat di sayangkan di era Reformasi saat ini pernyataan serupa masih saja bisa diucapkan.

Baca Juga: Pemain Asing Persik Kediri Gagal Tampil Baik Saat Hadapi Borneo FC

Penjara itu sanksi hukum dari perbuatan yang melanggar hukum, bertentangan dengan hukum, tidak sesuai dengan kaidah hukum atau melawan hukum bukan sanksi dari perbedaan Politik bukan sanksi dari perbedaan pilihan dalam pemilu.

Dalam pilkada bahkan pilkades sekalipun, jika hanya ada satu calon maka untuk memastikan hak demokrasi berjalan selalu ada ruang bagi yang tidak bersetuju pada calon itu.

Sehingga panitia penyelenggara pemilihan memungkinkan membuat satu kotak kosong agar Rakyat tetap boleh punya pilihan. Perbedaan Pilihan itu bahkan di lindungi oleh konstitusi kita.

Salah satu kelebihan sistem Demokrasi di banding sistem lainnya adalah karena Demokrasi membuka ruang dan berterima terhadap perbedaan apapun selama sesuai dengan koridor hukum dan nilai nilai Hak Azazi Manusia, termasuk membuka ruang pada perbedaan memilih Capres dan Cawapres bagi Partai dan perbedaan memilih bagi Rakyat dalam bilik suara.

Baca Juga: Borneo FC Buat Panas Persaingan Papan Atas Liga 1 Indonesia

Jadi sebenarnya pernyataan Ketum Projo itu mengancam Partai, mengancam pelaku politik atau justeru mengancam Demokrasi dengan mengancam perbedaan pilihan atau jangan jangan malah mengancam konstitusi yang jelas jelas melindungi Perbedaan. Untuk itu perlu rasanya Ketum Projo meralat dan meluruskan apa maksud dari pernyataannya.***

Jakarta 13 Agustus 2022

Hormat Saya

Penulis Oleh: Adian Napitupulu / Sekjen PENA 98 (Persatuan Nasional Aktivis 98).

Editor: Bobby San

Tags

Terkini

Benarkah Prabowo Subianto Pemimpin Strategis?

Sabtu, 26 Agustus 2023 | 18:07 WIB

Ancaman Indonesia-EU CEPA Dalam Digital

Sabtu, 8 Juli 2023 | 19:48 WIB
X