• Minggu, 26 September 2021

Catatan Sejarah, 27 Juli 96 Dalam Hidupku

- Rabu, 28 Juli 2021 | 04:00 WIB
IMG-20210728-WA0000
IMG-20210728-WA0000

Strategi.id - Pagi ini 25 tahun lalu. Kantor PDI Diponegoro 58 diserbu pasukan gado-gado yang terdiri dari preman, intel dan aparat yang menyamar sebagai kader PDI Pro Suryadi.
Kantor PDI Dipo 58 hancur luluh lantak.
Ribuan aktivis pendukung PDI Pro Mega menjadi korban. Sebagian besar luka ringan hingga luka parah dalam mempertahankan gedung yang menjadi simbol gerakan dan pertahanan rakyat Pro Demokrasi di senjakala kekuasaan Orde Baru.
Bahkan, dikabarkan dalam penyerangan tersebut ada beberapa korban tewas.

Sejak jumat malam 26 Juli 1996 beredar rumor akan adanya penyerbuan dengan menggunakan kekuatan militer mengambil alih kantor PDI Pro Mega.
Rumor ini di sikapi awak media dengan bersiaga sepenuh hati menanti untuk mengabadikan momen bersejarah yang oleh banyak kalangan akan menjadi "killing fields."

Penyerbuan pun terjadi. Pengambil alihan secara paksa atas Gedung DPP Pro Mega secara brutal dan kasat mata, massa pendukung PDI Suryadi merangsek menguasai Jalan Diponegoro tepat di depan kediaman Proklamator Bung Hatta, PEPABRI, Kedutaan Besar Palestina, DPP PPP.

Korban massa Pro Mega berjatuhan luka-luka. Banyak digelandang aparat menuju Polda Metro Jaya.

Perlawanan pun terus membesar. Saya dan beberapa kawan yang sejak malam berjaga-jaga atas instruksi Komandan Satgas PDI Pro Mega almarhum Soesilo Muslim mengambil alih perlawanan di seputaran Gedung Megaria.

Kabar perlawanan rakyat dari Menteng ini membahana ke seluruh negeri. Massa yang selama ini nyaris tak peduli dengan situasi perpolitikan saat itu tiba-tiba mengalir laksana air bah. Ribuan massa kemudian bersimpati melakukan perlawanan. Gerakan intifada aktivis dan massa rakyat semakin membesar. Aparat PHH yang sejak subuh berjaga-jaga dan membarikade wilayah "pertempuran" terus dihujani batu.
Aparat PHH juga mendapatkan kekuatan. Panser kemudian menutup area depan kantor PDI Pro Mega.

Media massa mengabadikan semua perlawanan ini. Gerakan intifada sejenak terhenti.
Aksi keprihatinan dan doaa bersama di gelar depan SMP 8. Aksi ini membuat sebagian massa larut dalam tangis melihat betapa kejamnya peristiwa politik pembantaian yang terjadi di akhir keruntuhan Orde Baru.

27 Juli dan Gerakan Mahasiswa


Di pimpin intelektual muda Nahdlatul Ulama kala itu Amsar A. Dulmanan suasan hiruk pikuk menjadi hening dan bening. Tuduhan pemerintahan Orde Baru PDI Pro Mega dipenuhi anasir PKI terbantahkan. Massa Rakyat pun menyadari tanpa pertolongan dan ridho Allah perjuangan mereka adalah kesia-siaan.

Stasiun KA Cikini, Gondangdia tidak beroperasi. Namun tetap saja tak henti-hentinya kekuatan rakyat mengalir mendukung aktivis mahasiswa & pemuda serta aktivis PDI Pro Mega melawan militer Orde Baru.

Salah satu kekuatan dan dinamisator Mimbar Demokrasi Dipo 58 adalah Posko Pemuda & Mahasiswa. Di posko inilah banyak dibahas dan diagendakan aksi-aksi perlawanan dan pembangkangan terhadap rejim Soeharto.

Posko Pemuda & Mahasiswa.jugalah yang membangun aliansi strategis dengan kalangan jurnalis mengingat banyak aktivis posko mahasiswa merupakan aktivis pers mahasiswa. Yang di tahun 1998 mengalami metamorfosa menjadi Forkot, FKSMJ, dan kantong-kantong gerakan lainnya.

Sebelum pecah tragedi 27 Juli di galang aksi long march kecil-kecilan semacam show of force dan perkenalan kepada rakyat Jakarta bahwa Mimbar Demokrasi Dipo 58 bukan gerakan dan aksi statis.

Di inisiasi Posko Pemuda dan Mahasiswa dibentuklah SPIPD (Solidaritas Pemuda Indonesia untuk Perjuangan Demokrasi).
Sesungguhnya ini adalah aliansi diam-diam aktivis Mahasiswa Jakarta, AJI, SBSI, FKGMNU, GMNI dengan support dari teman-teman PIJAR, LBH Jakarta & YLBHI. Karena itulah aksi Long March SPIPD mendapatkan perhatian serius rejim orde baru dengan menstigmatisir PDI Pro Mega adalah "Kuda Troya" dari gerakan makar kepada kekuasaan Jenderal Soeharto.

Paska aksi dan doa keprihatinan, situasi kembali memanas. Rasa penyesalan massa Pro Mega dan para pendukungnya yang tidak mampu mempertahankan benteng demokrasi menjadi ghirah atau elan untuk melawan.
Aparat PHH semakin memperluas area dan lokasi pengamanan setelah pengambil-alihan kantor DPP.

Sekira pukul 10.00 genderang perang ditabuh oleh segenap rakyat disekitar Cikini. Bersatu dengan aktivis yg terus bertahan gerakan intifada kembali dilanjutkan persis seperti yang terjadi di Gaza Straits, Palestina.
Perang batu terus berlanjut. Suasana terus membara dan mencekam. Terdengar kabar Ibu strategi.id/tag/Megawati">Megawati Soekarno Putri akan hadir di lapangan sebagai penanggungjawab tertinggi gerakan perlawanan rakyat. Sedianya dari Kebagusan, Pasar Minggu Ibu Mega telah siap. Tiba-tiba terdengar juga kabar bahwa banyak kekuatan dan kelompok mengancam keselamatan jiwa dan hidup beliau bila hadir di lokasi.
Dengan penuh penyesalan Ibu strategi.id/tag/Megawati">Megawati urung menuju lokasi. Beliau cermat memikirkan dan menilai gerakan belum cukup matang dan akan padam sementara waktu.

Class action beliau tempuh melalui TPDI dan gerakan aksi.
Peristiwa 27 Juli dengan cepat menjadi isu dunia internasional.

Di Megaria terus mengalir dukungan rakyat. Aparat pun semakin beringas. Cerita kekejaman ABRI yang saat itu hanya hadir cerita seram seolah terpampang nyata dihadapan rakyat. ABRI saat itu seolah bukan anak kandung rakyat. Melainkan anak durhaka yang mengkhianati ibu pertiwinya.
(kelak di tahun 98 lahir lagu plesetan dari Mars ABRI).

Gerakan terus membesar, aparat pun semakin represif. Tiba-tiba panser dan peluru karet menghujani tubuh aktivis. Banyak yang dikejar dengan rotan dan pentungan. Simpang Megaria kocar kacir. PHH bergerak ke arah Salemba. Rakyat Jakarta menyambut perlawanan semesta ini. PHH tertahan di sekitar LBH & Jalan Kimia.

Pengejaran Aktivis


Sejak Pukul 16.xx sore aparat terus menyisir aktivis. YLBHI yang sejak dulu merupakan shelter gerakan Pro Demokrasi tak urung dilibas aparat. PHH terus merangsek, aktivis banyak memilih bersembunyi di RSCM yang selalu menjadi tempat teraman. Bahkan disaat perang Rumah Sakit punya kekhususan.

Intifada berlanjut masuk ke wilayah pertigaan Salemba. PHH dengan panser dan pakaian perang lengkap seperti sedang menghadapi penjajah dalam gerilya kota.
Bis PPD pun terbakar hangus terbakar. Senja 27 Juli menjadikan Jakarta Merah Membara. Rakyat berbondong-bondong menyambut PHH dengan melempar dengan benda apapun yg mudah dijangkau oleh tangan mereka. PHH menjadi lebih ganas, kemudian disusul terbakarnya Gedung Departemen Pertanian seberang RS Carolus dan Bank Kesawan seberang Masjid Arief Rahman Hakim Kampus UI Salemba.

Massa Rakyat kocar kacir. Terbelah menjadi dua arus. Kearah Matraman dan kearah Pasar Senen. Suasana yang terus mencekam dan melelahkan membuat langkah perlawanan terhenti sejenak.
Sabtu malam itu Jakarta Mati Suri.
Berbagai ancaman mendera banyak aktivis. Sebagian besar kemudian memilih melarikan diri, meninggalkan Jakarta atau ngumpet di safety house.

Saat itu hanya pager dan radio yang bisa diakses banyak aktivis. Banyak berita berseliweran, tentang pengejaran aktivis, penyerbuan ke kantong-kantong gerakan hingga pengkhianatan aktivis hingga permintaan maaf kepada Soeharto atas terjadinya peristiwa 27 Juli.

 

Bersambung

Penulis Oleh: Firman Tendry Masengi / Aktivis dan Penasehat Hukum.

Editor: Bobby San

Tags

Terkini

Giring Bermental Miring, Anies Tetap Humanis

Kamis, 23 September 2021 | 11:45 WIB

Hentikan Konflik Petani

Rabu, 22 September 2021 | 19:00 WIB

Berpartai Dengan Riang Gembira Ala Bang Jago

Rabu, 22 September 2021 | 18:00 WIB

Krisdayanti Menyingkap Kebenaran Publik

Senin, 20 September 2021 | 18:25 WIB

Rocky Gerung Meraung, Penguasa Limbung

Minggu, 19 September 2021 | 07:00 WIB

Mendamba Independensi Jurnalis

Sabtu, 18 September 2021 | 09:00 WIB

Memiliki Kehilangan dan Ketiadaan

Kamis, 16 September 2021 | 14:20 WIB

Sunyi Sepi Kehadiran Illahi

Senin, 13 September 2021 | 16:20 WIB

Megawati, Demokrasi dan Feodalisme

Jumat, 10 September 2021 | 10:15 WIB

Menguak Kontroversi Demokrasi Terpimpin

Senin, 6 September 2021 | 19:20 WIB

Meluruskan Pernyataan Bung Radhar Yang Keliru

Jumat, 3 September 2021 | 10:50 WIB

Pertumbuhan Ekonomi Dan 'Level Of Trust'

Minggu, 29 Agustus 2021 | 17:35 WIB

Semangat Terbarukan Mengawal Agenda Reformasi 1998

Minggu, 29 Agustus 2021 | 16:45 WIB
X