• Minggu, 26 September 2021

27 Juli dan Para Pelaku Sejarah

- Kamis, 29 Juli 2021 | 01:00 WIB
IMG-20210730-WA0001
IMG-20210730-WA0001

Strategi.id - Malam itu suasana panggung mimbar demokrasi selalu saja ramai dikunjungi pendukung Megawati Soekarno Putri. Panggung demokrasi yang setiap hari acap kali dipakai sebagai tempat menumpahkan kekesalan, hujatan, kemarahan kepada Suryadi, otak pelaku kudeta kepemimpinan syah Partai Demokrasi Indonesia pimpinan Megawati.

Tidak banyak orang mengetahui. Aktor dibalik mimbar bebas yang ramai dikunjungi setiap hari itu digagas oleh Bob Randilawe dan kawan2 aktivis antar kota. Panggung tersebut difungsikan sebagai media agitasi, profokasi dan penggalangan masa oleh para aktivis untuk melawan rejim fasis Orde Baru.

Tujuan didirikan posko pemuda, mahasiswa dan panggung mimbar bebas tersebut tidak lain untuk membangun solidaritas, menarik perhatian dan simpatisan. Supaya orang awam mau hadir dan terpikat turut mendukung perjuangan mahasiswa dan Megawati. Di mimbar itu pula, para oposisi berkesempatan memberikan propaganda bernada perjuangan. Menyemangati mahasiswa, kaum muda dan relawan pendukung PDI Megawati.

Semakin hari semakin besar dukungan masyarakat terhadap gerakan politik yang berada di jln Diponegoro Jakarta- pusat. Entah darimana saja semua unsur tumpah disitu. Isyu yang beredar di masyarakat memang beragam. Pemerintah mencoba melokalisir bahwa perpecahan di tubuh PDI hanya persoalan internal. Ditengarai sebatas sebuah perpecahan dua kubu yang sedang memperebutkan kursi ketua partai. Tapi sesungguhnya perpecahan di tubuh PDI, bukan dikarenakan konflik internal. Sejatinya itu semua by design. Masyarakat sudah paham dan sadar , bahwa sebenarnya Soeharto tidak menghendaki PDI dipimpin oleh anak Soekarno.

Perselisihan idiologi masa lampau tampaknya belum usai. Terlihat bayang- bayang politik Soekarno masih saja bergelayut di wajah Soeharto. Bisa saja keyakinan Soeharto itu semakin kuat bahwa Megawati menjadi ancaman terberat. Dikawatirkan nantinya keturunan Soekarno akan memimpin perubahan sosial. Dan bisa dipastikan dikemudian hari Megawati akan menjadi kerikil tajam di tengah kekuasaan Soeharto. Akhir kesimpulan, Mega harus disingkirkan dari percaturan politik nasional.

Disinilah rejim Orde baru dengan leluasa menggunakan Tentara melindas demokrasi dan HAM.

Isu demokrasi dan penegakkan Ham kemudian menjadi penting, ketika negara mengalami krisis multi dimensi. Tentara dan kekuatan politik lainnya dipakai oleh Soeharto sebagai alat untuk menghabisi lawan- lawannya . Partai politik di bonsai serta dikendalikan. Bahkan yang tidak sejalan dengan pemerintah, akan di habisi. Demikian pula apa yang di rasakan Megawati pada waktu itu.

Untuk mengambil alih PDI dari tangan Megawati, dimunculkanlah skenario devide et imperaa antara Soeryadi versus Megawati. Endingnya, kursi kepemimpinan Megawati diambil paksa dengan cara kudeta dan berdarah. Wajah politik Indonesia menjadi suram. Tapi meski demikian, pendukung Mega bersama- sama mahasiswa, pemuda tidak pernah menyerah.

Peristiwa 27 Juli 1996 menjadi titik awal kebangkitan perlawanan gerakan rakyat dan mahasiswa Indonesia hingga rejim totaliter itu berakhir. Dari peristiwa Kedong ombo, blangguan, kaca piring, penindasan rakyat petani jatiwangi, Cimacan, Badega , meninggalnya marsinah, dan aktivis mahasiswa yang sudah banyak dipenjara oleh Soeharto. Adalah celah dimana mahasiswa harus memiliki isu sentral untuk di tandingkan di atas ring politik.
Ketika aktivis memiliki isu yang dapat dijadikan alat kuat untuk memukul Soeharto. Tidak lain isu 27 juli menjadi starting point sekaligus entry point gerakan mahasiswa untuk terus menerus melakukan perlawanan kepada rejim tanpa jedah.

Dengan ditekannya gerakan perubahan oleh pemerintah justru membangkitkan perlawanan sengit mahasiswa dan pemuda. Kaum opoisisi semakin gigih dalam berjuang. Kampus kian ramai lahir Tokoh- tokoh baru bersama gerakannya. Tumbuh kesadaran mahasiswa untuk menyingsingkan lengan bajunya menggalang solidaritas . Demokrasi dan Ham menjadi topik judul yang selalu digaungkan dan menjadi isyu sentral mahasiswa sebagai ikon perjuangan. Bahkan dalam protes- protes kampus, tidak sedikit mahasiswa yang ditangkapi dan mereka menanggung resiko dari kampusnya dengan tidak diperbolehkan mengikuti mata pelajaran atau skorsing akibat terlibat dalam gerakan.

Mahasiswa bukan takut yang ada, tapi malah semakin militan. Mahasiswa membangun militansi dan radikalisme pemikiran dengan mentraining serta mengkader mahasiswa baru. Tidak sedikit mahasiswa yang tadinya bergaya hidup hedonis, prakmatis kemudian bergabung ke dalam lingkaran gerakan.
Mereka yang sudah mandiri dan dapat dianggap mampu melakukan agitasi, pengorganisasian akan dilepas dan diminta untuk tampil orasi di atas mimbar atau aksi- aksi mahasiswa.

Bukan suatu yang sulit bagi Bob Randilawe dan kawan- kawan seperjuangan untuk menggalang masa dan mahasiswa. Tokoh aktivis Jakarta ini, mendapat atensi dan sambutan baik dari orang- orang dalam PDI Megawati, untuk berjuang bersama- sama mengakhiri rejim totaliter.

Sebelum peristiwa 27 juli pecah, Mahasiswa dari berbagai daerah datang ke Jakarta untuk memberi dukungan. Tokoh- tokoh aktivis berasal dari berbagai daerah beserta jaringannya membangun solidaritas dan beskem- beskem gerakan di Ibu kota.

Beberapa teman di Jakarta telah menyiapkan tempat untuk mobilisasi. Seperti misal lembaga pipham Agus lenon dan Santoso. Pijar Indonesia, SBSI, LBH Jakarta dll ikut memfasilitasi keperluan aktivis yang tiba di Jakarta.

Sedang aktivis kampus dari luar kota difasilitasi tempat oleh Standarkiaa Latief , Okky Satrio Djati dan teman- teman lainnya yang berada diberbagai kampus di Jakarta. Mereka yang datang ke Jakarta adalah delegasi kampus dari Jawa, Bali, NTB, Sumatra, Kalimantan dan Sulawesi. Wajah- wajah baru aktivis tampak bemunculan. Mereka hadir memberi suport. Biasanya delegasi mahasiswa dan pemuda dari daerah, dipinta tampil di panggung demokrasi. Masing - masing delegasi menyampaikan pidato dengan berapi - api dan sifatnya harus melawan rejim.

Panggung demokrasi dan posko pemuda , mahasiswa telah menjadi perekat dari berbagai golongan bagi kaum yang merasa tertindas oleh rejim Orde baru. Kantor DPP PDI dijadikan ajang mimbar bebas kaum gerakan, bagi siapa saja yang ingin tampil memberi orasi. Syarat tampil di mimbar harus keras, agiprof ( agitasi profokasi ) dengan bahasa melawan pemerintah. Jika tidak memenuhi syarat tersebut maka tidak boleh tampil di mimbar bebas. Dan mereka yang sudah tampil pidato di mimbar bebas, sudah tau resikonnya. Bisa- bisa setelah turun dari panggung mimbar bebas, pulangnya dicegat dan diculik oleh aparat keamanan dan dibawa ke markas ruang intrograsi bernama Kremlin : Kramat lima. Aktivis menyebutnya kremlin karena tempat ini sebagi ruang penyiksaaan. sangat sadis, gelap dan pengap. Aktivis yang sudah masuk ke Kremlin sulit untuk dapat keluar lagi. Dan biasanya sehabis di interograsi banyak terdapat luka di tubuhnya karena di sundut rokok dan di pukuli. Tapi dasar aktivis tak pernah ada jera. Tangkap satu tumbuh seribu. Kremlin dan kramat tujuh adalah tempat intrograsi dan penyiksaan para aktivis 80- an. Kremlin adalah bagian institusi militer dibawah Kodam jaya. Tempat ini sebagai lembaga untuk memata- matai para aktivis khususnya di jwkarta. Atau tepatnya dinamakan lembaga intelejen khusus wilayah DKI.

Di panggung mimbar bebas tersebut orang boleh apa saja bicara asal melawan rejim Orde baru. Perlawanan kepada rejim Orde baru kian hari kian bertambah ramai. Hadir secara rutin yakni kalangan mahasiswa, pelajar, LSM, tokoh2 oposisi, purnawirawan. Banyak pula masyarakat baru yang andil ikut memperkuat barisan oposisi.

Suasana semakin menjadi. Aktivis berpikir tidak lama lagi rejim akan tumbang.
Maka tokoh- tokoh senior Nasionalis pun ikut turun membantu.

Di rumah Erros Djarot ( budayawan ) para aktivis mengadakan rapat gelap untuk menyusun strategi perjuangan .

Begitu juga di rumah Bondan Gunawan seorang nasionalis senior dan tokoh GMNI. Tempatnya dipakai untuk rapat- rapat gerakan dan persinggahan makan malam oleh aktivis dari luar kota.

Hampir semua komponen gerakan ikut dalam perjuangan. Tempat- tempat seperti Lautze milik Hariman Siregar juga aktif dijadikan tempat diskusi politik. Bahkan hingga hari ini, tempat tersebut masih eksis untuk pertemuan eksponen aktivis 80 - 90 an disaat yang lain sudah tutup diri alias gulung tikar. Meminjam istilah Bob Randilawe : " para kaipang sedang berkumpul untuk menentukan nasib bangsa".

Di jln Raya Gondangdia lama Menteng Jakarta pusat. Disana ada rumah Marsilam Simanjuntak, yang setiap hari rabu malam dijadikan tempat diskusi politik Fordem : Forum Demokrasi. Yang didalamnya adalah orang- orang hebat. Gusdur, Marsilam, Bondan gunawan, Rahman Toleng, Rocky Gerung, Fadjrul Rahman, Ulil Absor abdala dan penulis juga aktif hadir dalam pertemuan terbatas tersebut.

Kantong- kantong gerakan untuk perubahan kemudian muncul dimana- mana. Banyak wartawan asing dan peneliti luar negri datang ke Indonesia mewawancarai tokoh- tokoh aktivis, tentang bagaimana nasib kedepan demokrasi dan Ham.

Konteks pergerakan mahasiswa 80 an berserta polarisasinya. Ditinjau dari perspektif dan pemikiran Ralf Dahrendorf, filosof berkebangsaan Jerman yang mengkritisi teori Karl Marx, memberi guiden: " Konflik hanya muncul melalui relasi- relasi sosial dalam sistem". ( M ibnu azzulfa ) dalam teori konflik.

Pemikir- pemikir teori konflik, yang sejatinya melihat gerakan mahasiswa Indonesia telah mengelaborasi aksi- aksinya bersama isyu- iyu kerakyatan. Pukulan telak kaum oposisi yang dialamatkan kepada rejim dan Dwi fungsi ABRI yang didukung oleh kekuatan oligarkis memberi kesan terpancing dan mulai oleng.

Orde baru dibangun oleh piramida kelompok pengusaha non pri dan militeristik. Kelompok pengusaha non pri yang oportunistik itu kemudian lambat laun meninggalkan politik lama.

aemakin pikirannya dalam mensikapi pengusaha non pri yang jumlahnya sedikit tapi solid itu semua dibesarkan oleh Soeharto. Mereka melihat dan memonitor perkembangan situasi. Membaca pertarungan politik antara oposisi dengan rejim Orde baru. Pada akhirnya titik puncak perselisihan terletak pada perebutan kekuasaan yang akar permasalahnnya adalah kapitalisme global.

Disinilah, penguasa tidak menghalalkan kekuasaannya jatuh begitu saja. Dan pengusaha asetnya tidak ingin dirampas oleh rakyat. Kekawatiran konglomerat tersebut kemudian dijadikan alasan bahwa dirinya bukan perampok harta karun sumber daya alam Indonesia. Tapi senyatanya mereka sudah berhasil menguasai dan mengepung kekuasaan Orde baru.

Dengan dalih itulah maka kaum pergerakan harus bisa merebut kekuasaan. Dengan cara itu maka konflik terus menerus harus dipelihara dan diciptakan. Kaum opoisisi menginginkan terjadi perubahan besar dalam ekonomi, politik, sosial dll

Disanalah terjadi tarik menarik pengaruh antara status quo dengan rakyat. Siapa yang kuat dalam simbolistik maka merekalah yang menang.

Aktivis mahasiswa ingin merebut serta meraih simbol- simbol yang selama itu di gunakan sebagai alat legitimasi kekuasaan Orde baru.

Bob Randilawe dan kawan2 mendirikan SPIPD : Solidaritas Pemuda Indonesia untuk Perjuangan Demokrasi Yang beberapa kali diajak diskusi dengan Megawati di kediamannya untuk tukar pikiran tentang situasi politik yang berkembang.

SPIPD dan panggung demokrasi adalah legacy pemuda dan mahasiswa Indonesia yang disumbangkan untuk perubahan yang lebih baik. Dalam sejarah kepartaian Orde baru. Tidak mungkin anggota partai dapat menggalang kekuatan oposisi yang sedemikian hebat seperti itu, jika tidak ada pemuda dan mahasiswa.

Jauh sebelum ada peristiwa 27 Juli. Mahasiswa, buruh , petani, pemuda sudah terlebih dulu berjuang melawan tirani.

Tokoh- tokoh SMID: Solidaritas Mahasiswa untuk Demokrasi Munif Laredo, Peter Hari , Petrus bima anugerah, Garda Sembiring, dan tokoh- tokoh PRD: Partai Rakyat Demokratik seperti Budiman Soedjatmiko, nezar patria, Raharjo waluyo jati dkk sudah bergerilya terlebih dahulu memotong rantai kekuasaan Orde baru.

27 Juli 25 tahun lalu adalah momentum untuk mempersatukan kelompok- kelompok oposisi untuk kerja lebih keras lagi.

Perubahan yang berakhir dengan jatuh nya rejim Orde baru pada 21 Mei 1998 adalah titik kulminasi gerakan mahasiswa , pemuda dan rakyat yang sudah jengah dan bosan terhadap kepemimpinan yang terlalu lama itu.

Penulis Oleh: Eko S Dananjaya / Saksi Sejarah Eks Ketua Yayasan Pijar.

Editor: Bobby San

Tags

Terkini

Giring Bermental Miring, Anies Tetap Humanis

Kamis, 23 September 2021 | 11:45 WIB

Hentikan Konflik Petani

Rabu, 22 September 2021 | 19:00 WIB

Berpartai Dengan Riang Gembira Ala Bang Jago

Rabu, 22 September 2021 | 18:00 WIB

Krisdayanti Menyingkap Kebenaran Publik

Senin, 20 September 2021 | 18:25 WIB

Rocky Gerung Meraung, Penguasa Limbung

Minggu, 19 September 2021 | 07:00 WIB

Mendamba Independensi Jurnalis

Sabtu, 18 September 2021 | 09:00 WIB

Memiliki Kehilangan dan Ketiadaan

Kamis, 16 September 2021 | 14:20 WIB

Sunyi Sepi Kehadiran Illahi

Senin, 13 September 2021 | 16:20 WIB

Megawati, Demokrasi dan Feodalisme

Jumat, 10 September 2021 | 10:15 WIB

Menguak Kontroversi Demokrasi Terpimpin

Senin, 6 September 2021 | 19:20 WIB

Meluruskan Pernyataan Bung Radhar Yang Keliru

Jumat, 3 September 2021 | 10:50 WIB

Pertumbuhan Ekonomi Dan 'Level Of Trust'

Minggu, 29 Agustus 2021 | 17:35 WIB

Semangat Terbarukan Mengawal Agenda Reformasi 1998

Minggu, 29 Agustus 2021 | 16:45 WIB
X