• Kamis, 2 Desember 2021

Mampukah Indonesia 'Mengatur' AS dan China di G20?

- Minggu, 19 September 2021 | 13:05 WIB
Mampukah Indonesia 'Mengatur' AS dan China di G20?(Gambar Ilustrasi) (Ist)
Mampukah Indonesia 'Mengatur' AS dan China di G20?(Gambar Ilustrasi) (Ist)

Baca Juga: Presiden Ajak Negara G20 “Perang” Melawan Covid-19 dan Pelemahan Ekonomi Dunia

AUKUS dan Persiapan Indonesia

Situasi seperti itu bukan tidak mungkin akan terjadi lagi, ketika Presidensi G20 berada di tangan Indonesia. Sehingga Presiden Jokowi, didukung jajaran Kemlu RI yang berada di bawah komando Menlu Retno Marsudi, harus mengantisipasi hal ini dan melakukan langkah-langkah reformasi di dalam G20.

Presiden AS kini dijabat Joe Biden, yang perilakunya lebih terprediksi dan terkontrol ketimbang Trump. Seperti dinyatakan Suoneto, yang menjadi host Foreign Policy Talks Podcast, Presiden Biden mungkin akan memberikan tingkat solidaritas G20 yang lebih besar. Meski demikian, ketegangan antara AS dan China tampaknya akan tetap ada.

Tantangan berat bagi Indonesia sebagai tuan rumah adalah bagaimana “mengatur” AS dan China. Tujuannya, agar persaingan pengaruh antara dua negara adidaya ini tidak berdampak negatif terhadap agenda-agenda G20.

Apalagi baru-baru ini, AS membuat langkah yang menggusarkan China. AS, Inggris, dan Australia membangun aliansi baru bertajuk AUKUS. Salah satu proyek AUKUS adalah membuat sejumlah kapal selam nuklir bagi Australia, untuk menyaingi kekuatan China di kawasan Indo-Pasifik.

Australia dengan demikian menjadi negara kedua yang diberi akses ke teknologi nuklir AS, untuk membangun kapal selam bertenaga nuklir. Negara pertama adalah Inggris pada 1958.

Perkembangan AUKUS ini jelas tidak membantu ke arah terwujudnya rasa saling percaya antara AS dan China. Padahal dua negara besar itu berada di dalam G20, yang diharapkan bisa bekerja sama untuk menyukseskan program-program yang dicanangkan. Dengan kata lain, tugas Indonesia cukup berat, untuk memadukan gerak langkah AS dan China, serta negara-negara lain di G20.

Mereka diharapkan untuk fokus dan berkomitmen pada berbagai program bersama dan rencana aksi G20, yang bertujuan memberi solusi kolektif bagi problem-problem global. Apakah Presiden Jokowi, jajaran Kemlu RI, berbagai kementerian beserta lembaga pendukung lain sanggup memikul tanggung jawab itu? Kita doakan saja. 

Penulis Oleh: Satrio Arismunandar / Alumnus S3 Filsafat UI, Co-Founder Fokus Wacana UI, Sekjen Perkumpulan Penulis Indonesia SATUPENA, dan Pemimpin Redaksi Majalah Pertahanan ARMORY REBORN.***

Halaman:

Editor: Bobby San

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Ini 10 Pemuda Harapan Bangsa Masih Jauh Dirantau

Rabu, 17 November 2021 | 07:00 WIB

Tantangan Trisakti Bagi Kepemimpinan Milenialist

Selasa, 16 November 2021 | 11:00 WIB

Petani Harus Berdaulat, Berdikari dan Berkebudayaan

Sabtu, 13 November 2021 | 23:00 WIB

Jumat Berkah: Sandal Jepit dan Nilai-Nilai Pancasilais

Jumat, 12 November 2021 | 15:30 WIB

Fenomena Sadfishing di Media Sosial TikTok

Selasa, 9 November 2021 | 11:40 WIB

BPIP Merawat Persatuan Melalui Batik

Rabu, 3 November 2021 | 18:30 WIB

Ketika Terbang Wajib PCR

Sabtu, 23 Oktober 2021 | 14:35 WIB

Manusia Silver

Minggu, 3 Oktober 2021 | 17:30 WIB

Korupsi, Nilai Agama dan Kompartementalisasi

Minggu, 26 September 2021 | 18:00 WIB

Membawa Anak ke Mal Saat PPKM , Apa Pentingnya?

Kamis, 23 September 2021 | 12:45 WIB

Gabriella Maelani

Senin, 20 September 2021 | 06:00 WIB

Kartu Prakerja "Rumah Cokro Raksasa" di Era Digital

Minggu, 19 September 2021 | 20:00 WIB

Mampukah Indonesia 'Mengatur' AS dan China di G20?

Minggu, 19 September 2021 | 13:05 WIB

Proyek Strategis MBTK yang Tersandera

Kamis, 9 September 2021 | 11:30 WIB

Urgensi PPHN dan Visi Indonesia 2045

Sabtu, 4 September 2021 | 08:55 WIB

Keadilan Sosial Sebagai Pondasi Kemajemukan

Kamis, 2 September 2021 | 08:20 WIB
X