• Rabu, 27 Oktober 2021

Kartu Prakerja "Rumah Cokro Raksasa" di Era Digital

- Minggu, 19 September 2021 | 20:00 WIB
Kartu Prakerja  (Dok:Pribadi)
Kartu Prakerja (Dok:Pribadi)

STRATEGI.ID - Bapak Bangsa sekaligus proklamator Indonesia Soekarno atau dipanggil Bung Karno dikenal memiliki segudang pengetahuan dan keterampilan. Selain karena pendidikan formal, bekal multiskill didapat Bung Karno berkat pergaulannya dengan berbagai tokoh besar yang rela saling berbagi wawasan dan keahlian.

Rumah Cokro milik petinggi Sarekat Islam Hadji Oemar Said Tjokroaminoto menjadi saksi sejarah saat Bung Karno belajar dari sejumlah tokoh nasional lain ketika mereka mengenyam pendidikan di Surabaya. Di situlah, Soekarno muda bertemu dan berbagi ide dengan figur penting tanah air seperti Tan Malaka, Semaun, Alimin, Darsono, Musso hingga Kartosoewirjo. Di kemudian hari, mereka menjadi sosok yang memegang teguh pandangannya masing-masing dalam memajukan masyarakat Indonesia.

Baca Juga: Satu Setengah Tahun Berjalan, Program Kartu Prakerja Jangkau 10,6 Juta Penerima Manfaat

Program Kartu Prakerja dengan keseluruhan ekosistem yang ada di dalamnya dapat dimaknai sebagai ‘Rumah Cokro Raksasa’ di era digitalisasi. Ekosistem Kartu Prakerja saat ini meliputi 7 platform digital, 183 lembaga pelatihan dengan 780 pelatihan aktif, 5 mitra pembayaran, 3 job portal, dan 7 institusi pendidikan menjadi semacam rumah belajar bersama yang menjangkau lebih dari 10,6 juta angkatan kerja di 514 kabupaten dan kota seluruh Indonesia.

Demikian pula Politeknik Keuangan Negara Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN), bisa mengambil hikmah dari kisah masa muda Bung Karno dan menjadikan dirinya sebagai ‘Rumah Cokro’ dalam konteks kawah candradimuka pendidikan calon bikrokrat pemikir di bidang ekonomi. Apalagi dengan sistem boarding yang diterapkan sejak Tahun Ajaran 2021/2022, mahasiswa tinggal di asrama sehingga bisa digembleng siang malam layaknya Soekarno indekost di Rumah Cokro.

Baca Juga: Kartu Prakerja Gelombang 21 Resmi Dibuka Hari Ini

Ungkapan ini disampaikan saat menjadi narasumber ‘Weekly Talk’, acara diskusi para dosen PKN STAN bertopik ‘Mempersiapkan Keterampilan Baru untuk Pekerjaan di Masa Depan’, akhir pekan ini.

Pembelajaran secara digital yang dilakukan Kartu Prakerja membantu menyelesaikan tantangan ketenagakerjaan kita, yakni kecilnya lowongan pekerjaan serta rendahnya skill angkatan kerja. Sejak awal kami bertekad menjadikan Kartu Prakerja sebagai sebuah produk, dan bukan sekadar program yang menyerap dana APBN.

Baca Juga: Guru Besar FEM IPB: Terbukti Bermanfaat, Kartu Prakerja Harus Lepas dari Kepentingan Politik

Menekankan, layaknya sebuah korporasi, Manajemen Pelaksana Program Kartu Prakerja menerapkan standar tinggi agar produk ini jangan sampai menjadi produk gagal. Untuk itu, kami harus mendengarkan suara konsumen. Pendekatannya customer-centric, dengan memperhatikan berbagai masukan di media sosial, layanan pengaduan maupun platform-platform lain, demi terus memperbaiki diri bagi kebaikan penerima manfaat di masa mendatang.

Halaman:

Editor: Bobby San

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Ketika Terbang Wajib PCR

Sabtu, 23 Oktober 2021 | 14:35 WIB

Manusia Silver

Minggu, 3 Oktober 2021 | 17:30 WIB

Korupsi, Nilai Agama dan Kompartementalisasi

Minggu, 26 September 2021 | 18:00 WIB

Membawa Anak ke Mal Saat PPKM , Apa Pentingnya?

Kamis, 23 September 2021 | 12:45 WIB

Gabriella Maelani

Senin, 20 September 2021 | 06:00 WIB

Kartu Prakerja "Rumah Cokro Raksasa" di Era Digital

Minggu, 19 September 2021 | 20:00 WIB

Mampukah Indonesia 'Mengatur' AS dan China di G20?

Minggu, 19 September 2021 | 13:05 WIB

Proyek Strategis MBTK yang Tersandera

Kamis, 9 September 2021 | 11:30 WIB

Urgensi PPHN dan Visi Indonesia 2045

Sabtu, 4 September 2021 | 08:55 WIB

Keadilan Sosial Sebagai Pondasi Kemajemukan

Kamis, 2 September 2021 | 08:20 WIB

Konsolidasi Demokrasi di Era Pandemi

Rabu, 1 September 2021 | 10:35 WIB

Ekulibrium Pandemi dan Infodemi Covid-19

Sabtu, 31 Juli 2021 | 16:00 WIB
X