• Kamis, 2 Desember 2021

Ketika Terbang Wajib PCR

- Sabtu, 23 Oktober 2021 | 14:35 WIB
Siluet Bgd. Raymon Piliang (Istimewa)
Siluet Bgd. Raymon Piliang (Istimewa)

STRATEGI.ID - Dengan dikeluarkan nya SE Satgas Covid Nomor 21 Tahun 2021 tentang Ketentuan Perjalanan Orang Dalam Negeri pada masa Pandemi COVID - 19 , maka terhitung mulai tanggal 21 Oktober 2021 setiap penumpang yang menggunakan moda transportasi udara diwajibkan untuk memiliki hasil test swab PCR negatif sebagai syarat utama untuk bisa melakukan perjalanan menggunakan pesawat udara.

Jika tujuanya adalah untuk menekan kenaikan kasus positif COVID-19 maka hal ini patut kita apresiasi, artinya pemerintah dalam hal ini Satgas COVID-19 sangat serius dalam upaya pencegahan penyebaran virus COVID-19.

Namun kemudian hal ini justru jadi kontra produktif ketika aturan yang sama tidak diterapkan pada moda transportasi darat yang dalam hal ini jelas frekuensinya jauh lebih masif daripada moda transportasi udara.

Baca Juga: Dokter Tirta Memperotes Kebijakan Pemerintah Revisi Aturan PCR Pesawat

Penumpang pesawat udara yang hanya rata-rata terbang dalam rentang waktu antara 2 sampai 3 jam wajib mengikuti tes PCR, sementara penumpang bus AKAP (Antar Kota Antar Propinsi) yang bisa memakan waktu belasan jam perjalanan untuk sampai ke kota tujuan nya cukup memakai tes Antigen saja. 

Melihat dari kenyataan ini kita mungkin dapat menyimpulkan sementara bahwa penumpang pesawat udara lebih rentan tertular virus COVID 19 daripada penumpang bis atau kereta api, mungkin karena virusnya lebih mudah menular masuk ke tubuh manusia pada ketinggian diatas 20.000 kaki dari atas laut, dan mungkin mungkin lainya namun lebih lanjut mungkin perlu kita diskusikan dengan ahli-ahli virologis.

Baca Juga: Soal PCR Syarat Semua Penerbangan, Puan: Pemerintah Harus Jawab Kebingungan Masyarakat

Dampak pemberlakuan wajib PCR ini ternyata tidak hanya berhenti pada penumpang pengguna transportasi udara saja, ternyata punya dampak ikutan yang lumayan panjang juga, sejak diadakannya SE Nomor 21 tersebut sudah banyak penumpang yang akhirnya menunda dan bahkan membatalkan penerbangan nya karena mereka tidak mau mengeluarkan biaya tambahan untuk tes PCR yang masih cukup mahal bagi kalangan tertentu.

Ketika terjadi penurunan jumlah penumpang maka otomatis maskapai penerbangan akan mengurangi frekuensi penerbangannya, dan selanjutnya karena frekuensi yang semakin sedikit akan berdampak pada pengurangan karyawan pada maskapai tersebut.

Baca Juga: Peraturan Terbaru Penerbangan Domestik Mulai 24 Oktober 2021 'Wajib PCR Dan Vaksin'

Halaman:

Editor: Antonius Danar

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Ini 10 Pemuda Harapan Bangsa Masih Jauh Dirantau

Rabu, 17 November 2021 | 07:00 WIB

Tantangan Trisakti Bagi Kepemimpinan Milenialist

Selasa, 16 November 2021 | 11:00 WIB

Petani Harus Berdaulat, Berdikari dan Berkebudayaan

Sabtu, 13 November 2021 | 23:00 WIB

Jumat Berkah: Sandal Jepit dan Nilai-Nilai Pancasilais

Jumat, 12 November 2021 | 15:30 WIB

Fenomena Sadfishing di Media Sosial TikTok

Selasa, 9 November 2021 | 11:40 WIB

BPIP Merawat Persatuan Melalui Batik

Rabu, 3 November 2021 | 18:30 WIB

Ketika Terbang Wajib PCR

Sabtu, 23 Oktober 2021 | 14:35 WIB

Manusia Silver

Minggu, 3 Oktober 2021 | 17:30 WIB

Korupsi, Nilai Agama dan Kompartementalisasi

Minggu, 26 September 2021 | 18:00 WIB

Membawa Anak ke Mal Saat PPKM , Apa Pentingnya?

Kamis, 23 September 2021 | 12:45 WIB

Gabriella Maelani

Senin, 20 September 2021 | 06:00 WIB

Kartu Prakerja "Rumah Cokro Raksasa" di Era Digital

Minggu, 19 September 2021 | 20:00 WIB

Mampukah Indonesia 'Mengatur' AS dan China di G20?

Minggu, 19 September 2021 | 13:05 WIB

Proyek Strategis MBTK yang Tersandera

Kamis, 9 September 2021 | 11:30 WIB

Urgensi PPHN dan Visi Indonesia 2045

Sabtu, 4 September 2021 | 08:55 WIB

Keadilan Sosial Sebagai Pondasi Kemajemukan

Kamis, 2 September 2021 | 08:20 WIB
X