• Minggu, 23 Januari 2022

Antara Filosofi, Ruh Rakyat dan Penjilat

- Rabu, 12 Januari 2022 | 19:30 WIB
Dosen UNJ dan Aktivis 98 Ubailah Badrun  (Ist)
Dosen UNJ dan Aktivis 98 Ubailah Badrun (Ist)

STRATEGI.ID - Sesungguhnya menjadi Aktivis demokrasi dan kemanusiaan di Indonesia memerlukan ekstra berfikir dan tenaga agar dapat membangun Narasi yang baik dan bijak bagi pendewasaan politik bangsa dan negara yang rusak oleh kegagalan pemerintahan Orde Baru membangun demokrasi dan keadilan.

Pemerintahan Orde Baru yang otoriter telah mematahkan berfikir seseorang untuk dapat berkembang menjadi diri sendiri yang inheren dengan harga diri dan pribadi seseorang.

Filosofi kerangka berfikir sebagai Aktivis harus berpijak pada ruh rakyat. Ruh rakyat yang tergambar dalam ruang berfikir Aktivis adalah dengan memeluk rakyat, mendatangi rakyat, mengajak rakyat untuk diskusi dan bersama-sama rakyat memecahkan persoalan-persoalan bangsa.

Baca Juga: Reformasi Menagih Janji Aktivis 98 Bergerak Melawan Korupsi, Kolusi Dan Nepotisme (KKN)

Pendampingan terhadap persoalan-persoalan rakyat yang dilakukan oleh Aktivis itu mutlak, tidak dapat di tolak. Dari sini akan lahir semangat Pri kemanusiaan yang akhirnya melahirkan ide-ide pembaharuan /perubahan dalam kerangka Negara.

Sebagai Aktivis 98 yang nota bene lahir dari kesadaran pendampingan dan pengorganisasian rakyat tentunya sangat diharamkan oleh pemerintahan Orde Baru.

Pertentangan ini di buktikan dengan sangat kerasnya Pemerintahan Orde Baru mengitimidasi, bahkan menculik banyak Aktivis saat itu,yang kita tahu masih banyak Aktivis yang belum ditemukan keberadaan nya sampai sekarang.

Tetapi, karena dilatar belakangi punya ruh rakyat, filosofi rakyat dan menjelma menjadi kekuatan pribadi, lahir kemudian Aktivis sejati.
Aktivis sejati itu diterjemahkan dalam konteks universal, yakni di selimuti anak kecil yng kelaparan, petani yang tergusur, rumah rakyat digusur, nelayan yang terbatas menangkap ikan, Buruh yang di peras tenaganya dengan upah minim, dan banyak lagi yang dapat masuk dalam pemikiran agar menjadi ruh.

Baca Juga: Politik Sekedarnya, Perkawanan Selamanya

Sebagai seorang Aktivis sesungguhnya tidak salah masuk dalam lingkar kekuasaan dan menjadi pebisnis atau yang lain, mereka harus menjelma dan hidup untuk kepentingan orang lain.

Halaman:

Editor: Bobby San

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Agama Sebagai Nilai Sakral Bukan Alat Politik Praktis

Minggu, 23 Januari 2022 | 19:10 WIB

Kembalikan Golkar Pada Aktivis dan Profesional

Minggu, 23 Januari 2022 | 18:30 WIB

Sikap DPD RI terkait RUU Ibu Kota Negara Nusantara

Kamis, 20 Januari 2022 | 13:00 WIB

DPR harus Tolak Pengesahan RUU IKN

Senin, 17 Januari 2022 | 15:00 WIB

Partai Politik Versus Partai Relawan

Minggu, 16 Januari 2022 | 14:00 WIB

Sang Akademisi yang Moralis

Jumat, 14 Januari 2022 | 07:30 WIB

Dukungan dan Kritik Untuk Habib Kribo

Kamis, 13 Januari 2022 | 18:40 WIB

Antara Filosofi, Ruh Rakyat dan Penjilat

Rabu, 12 Januari 2022 | 19:30 WIB

Politik Sekedarnya, Perkawanan Selamanya

Rabu, 12 Januari 2022 | 13:45 WIB

Langkah Ubedilah Badrun Membangun Moral Bangsa

Selasa, 11 Januari 2022 | 14:30 WIB

Berkumpulnya Semangat Perlawanan

Senin, 10 Januari 2022 | 10:00 WIB

Bahaya Hoax Dan Perlunya Tindakan Hukum

Kamis, 6 Januari 2022 | 16:00 WIB

Polri Harus Tetap Di Bawah Langsung Presiden

Senin, 3 Januari 2022 | 17:00 WIB

KPK Dijadikan Permanen, Indonesia Menjadi Raya

Minggu, 2 Januari 2022 | 18:00 WIB

PT 0 Persen Tindakan Ego Politik

Kamis, 30 Desember 2021 | 21:00 WIB
X