• Senin, 23 Mei 2022

Agama Sebagai Nilai Sakral Bukan Alat Politik Praktis

- Minggu, 23 Januari 2022 | 19:10 WIB
Ilustrasi keragaman hayati di Indonesia. (Belitung info)
Ilustrasi keragaman hayati di Indonesia. (Belitung info)
STRATEGI.ID - Berapa banyak dari mereka menggunakan tameng kesopanan sehingga terkesan mereka adalah bagian dari pengayom, bahkan  menggunakan simbol-simbol yang sakral berupaya meyakinkan pemilih elektorat bahwa mereka adalah bagian yang terbaik, ujungnya adalah saya dapat apa dan kebagian apa ??
 
Jangan kaget di kemudian hari bahwa simbol-simbol sakral itu di jadikan alat untuk mencari kekuasaan. Seperti yang pernah di cetuskan oleh Max Weber bahwasanya Simbol-simbol sakral "Agama" itu Candu..
 
Agama yang mempunyai basis yang secara luas kerap menjadi target seseorang untuk memainkan peran doktrinisasinya sehingga mempunyai dukungan militan yang besar.
 
 
Keterlibatan pemuka agama dalam dunia politik praktis memunculkan permasalahan baru di negara ini bahkan intern agama tersebut salah satu sebabnya karena berbicara tentang kenegaraan belum tentu mempunyai kesamaan ide dengan umatnya, anti-klimaks semua dari itu adalah memunculkan ideologi baru dari umat bahwa umat percaya dengan Tuhan namun tidak percaya dengan agama atau kata lainnya Ideologi Aknostik.
 
Mungkin saya lebih sepakat apa bila agama dan politik di pisahkan.
Bukan dalam arti Agama tidak mempunyai pengaruh besar untuk kemajuan Negara terlebih-lebih nilai spiritualismenya, hanya saja tidak relevan apa bila agama dan politik  ini dijadikan satu paket.
 
Negara tidak berhak untuk mengintervensi agama, negara hanya sebatas untuk melindungi Agama, bagi saya peran agama untuk negara  secara harafiahnya melindungi nilai-nilai agama yang bertentangan dengan hukum Negara.
 
 
Dalam konteks berbangsa dan bernegara "Indonesia" sesuai dengan dasar Negara bahwa Ketuhanan Yang Maha Esa. Tegas mengatakan bahwa seluruh Rakyat  Indonesia berhak untuk Bertuhan dan Beragama. Menolak keras mengadopsi dan mewujudkan ideologi Ateis dan Aknostik di bangsa ini.
 
Harapan saya :
- Agama dan Politik tidak di jadikan satu paket yang sama.
- Pemuka agama mempunyai peran fungsinya sebagai penginjil bukan menjadi provokator.
- Aknostik dan ateis bertentangan dengan asas Negara. ***
 
Disclamer : Tulisan ini sudah tayang Sitnas.com dengan judul Agama Sebagai Nilai Sakral Bukan Alat Politik Praktis

Editor: Martinus Yenn

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Adian Napitupulu: Tidak Semua Melupakan Mereka

Selasa, 26 April 2022 | 18:00 WIB

Jokowi Kecewa dan Terluka

Senin, 25 April 2022 | 11:15 WIB

Indonesia, Surga Metaverse Terbesar Di Dunia

Jumat, 8 April 2022 | 21:15 WIB

Polemik IDI dan Dr Terawan, Siapa yang salah ?

Minggu, 27 Maret 2022 | 19:00 WIB

ILMU PERTAHANAN

Sabtu, 26 Maret 2022 | 13:39 WIB

Reshuffle Kabinet Tak Penting bagi Rakyat

Kamis, 10 Maret 2022 | 21:30 WIB

Arifin Panigoro: Mengingat Pengusaha Hebat

Selasa, 1 Maret 2022 | 15:30 WIB

Gerakan Literasi Digital Bagi Pelaku UMKM di Indonesia

Minggu, 20 Februari 2022 | 16:35 WIB

Melodrama ARB dan Golkar

Senin, 14 Februari 2022 | 18:00 WIB

Imajinasi Geopolitik Sukarno

Minggu, 13 Februari 2022 | 18:05 WIB

HPN 2022, 76 Tahun PWI dan Kelahiran SMSI

Kamis, 10 Februari 2022 | 12:00 WIB
X