• Kamis, 11 Agustus 2022

ILMU PERTAHANAN

- Sabtu, 26 Maret 2022 | 13:39 WIB
Mahasiswa Doktoral Universitas Pertahanan (Unhan) Hasto Kristiyanto merangkum sejumlah implementasi pemikiran geopolitik Proklamator RI Bung Karno dalam simposium nasional, Sabtu (19/2/2022). (republika.co.id)
Mahasiswa Doktoral Universitas Pertahanan (Unhan) Hasto Kristiyanto merangkum sejumlah implementasi pemikiran geopolitik Proklamator RI Bung Karno dalam simposium nasional, Sabtu (19/2/2022). (republika.co.id)

Oleh: Hasto Kristiyanto

STRATEGI.ID-Ilmu pertahanan berawal dari logika sederhana. Ilmu ini berangkat dari sesuatu hal yang intrinsik, yang ada di dalam setiap makhluk hidup, yaitu suatu naluri untuk survive; suatu naluri bertahan hidup. Hakekat dasar ilmu pertahanan inilah yang dipakai oleh Bung Karno dengan mencanangkan “Indonesia Merdeka Sekarang” melalui perjuangan bangsa sendiri guna menembus kekuatan pertahanan Belanda.

Dalam analoginya, Bung Karno mengambil contoh sederhana, bahwa yang namanya cacing saja, jika terinjak-injak, akan kluget-kluget melakukan perlawanan. Ketika cacing saja melakukan perlawanan, apalagi suatu bangsa terjajah. Kesadaran sebagai bangsa terjajah, senasib sepenanggungan, namun memiliki rekam jejak sejarah yang gemilang melalui kejayaan Sriwijaya dan Majapahit inilah yang memperkuat energi perlawanan untuk merdeka.

Sejarah memiliki nilai yang penting. Oleh Bung Karno, sejarah dipakai untuk menyalakan semangat juang. It’s like a burning of fire, suatu api perjuangan yang tidak akan pernah kunjung padam meski menghadapi berjuta rintangan. Pemahaman konteks sejarah, terjadinya peristiwa, dan makna di balik setiap peristiwa harus diangkat apa adanya sebagai kebenaran sejarah.

Baca Juga: Jakarta Barat dan Pusat Cerah Berawan Hari ini, Bagaimana dengan Jakarta Selatan dan Timur ?

Hal ini penting guna mengoreksi pendekatan sejarah masa Orde Baru yang lebih sering menampilkan kronologi peristiwa. Sejarah bahkan sering dibelokkan demi kepentingan politik penguasa.

Pemahaman kebenaran sejarah yang sesuai konteks dan maknanya inilah yang seharusnya dipakai. Dalam kaitannya dengan ilmu pertahanan, sejarah mengajarkan pentingnya kekuatan pertahanan yang berdiri di atas konsepsi Trisakti, yakni berdaulat di bidang politik; berdiri di atas kaki sendiri (berdikari) di bidang ekonomi; dan berkepribadian dalam kebudayaan.

Relevansi Trisakti dalam pertahanan sangatlah nyata. Perang Rusia-Ukraina misalnya, menampilkan bagaimana kekuatan pangan berupa produksi gandum, minyak bunga matahari dll, bisa dijadikan senjata di dalam menghadapi sanksi ekonomi yang dilakukan negara-negara Barat. Demikian halnya kemampuan Rusia di dalam mensuplai gas sebagai sumber energi di Eropa.

Baca Juga: Jokowi Jengkel Didepan Menterinya, Ada Apa ?

Halaman:

Editor: Ilwan Nehe

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Mereduksi Potensi Korupsi IT Pemerintah

Minggu, 17 Juli 2022 | 11:25 WIB

Membangun Jangkar Kaum Nasionalis

Minggu, 29 Mei 2022 | 11:45 WIB

Adian Napitupulu: Tidak Semua Melupakan Mereka

Selasa, 26 April 2022 | 18:00 WIB

Jokowi Kecewa dan Terluka

Senin, 25 April 2022 | 11:15 WIB

Indonesia, Surga Metaverse Terbesar Di Dunia

Jumat, 8 April 2022 | 21:15 WIB

Polemik IDI dan Dr Terawan, Siapa yang salah ?

Minggu, 27 Maret 2022 | 19:00 WIB

ILMU PERTAHANAN

Sabtu, 26 Maret 2022 | 13:39 WIB

Reshuffle Kabinet Tak Penting bagi Rakyat

Kamis, 10 Maret 2022 | 21:30 WIB

Arifin Panigoro: Mengingat Pengusaha Hebat

Selasa, 1 Maret 2022 | 15:30 WIB

Gerakan Literasi Digital Bagi Pelaku UMKM di Indonesia

Minggu, 20 Februari 2022 | 16:35 WIB
X