• Selasa, 19 Oktober 2021

PRT Mudik Lebaran, Keluarga Urban pun Kelimpungan

- Sabtu, 23 Juni 2018 | 08:56 WIB
Ilustrasi asisten rumah tangga sedang mengasuh anak
Ilustrasi asisten rumah tangga sedang mengasuh anak

Strategi.id - BELUM atau tidak kembalinya para Pembantu Rumah Tangga (PRT) dan baby sitter dari mudik lebaran di kampung halaman ke rumah majikannya usai mereka mudik, membuat banyak majikan keluarga urban kelimpungan.

Hal itu lantaran para majikan harus menghadapi secara riil cucian yang menggunung, mengepel lantai, membuang sampah, memberi makan hewan piaraan, dan lain-lainnya disaat sahabat anak anak kita mudik lebaran.

Bahkan di tengah banyaknya rumah makan yang masih tutup libur lebaran, telah menambah bobot kalang-kabutnya para majikan karena tersiksa harus memasak makanan sendiri, dan menyiapkan bahan masakan sendiri, yang mana hal itu selama ini tak biasa dilakukannya. Sampai-sampai untuk urusan mengasuh dan mendidik anak pun para majikan kecanduan mengandalkan PRT.

Tanpa disadari, sesungguhnya banyak keluarga urban menengah-atas kota telah terlatih sekedar siap "terima beres" saja dari PRT dan baby sitter atas banyak hal, tak terkecuali mengasuh dan mendidik anak.

Dalam konteks mengasuh dan mendidik anak di tengah sistem kemasyarakatan berwatak kapitalisme seperti ini, telah memaksa banyak orangtua urban serasa sulit menghindar dari pilihan untuk mengandalkan jasa PRT atau baby sitter dalam pengasuhan dan pendidikan anak di dalam keluarga.

Padahal hal itu menandai tersubkontrakkannya tanggungjawab pengasuhan dan pendidikan anak dalam keluarga serta bonding (kelekatan emosional) anak sendiri kepada orang lain.

Sejatinya tanggungjawab pengasuhan dan pendidikan anak di rumah bukan wilayah yang boleh begitu saja disubkontrakkan ke orang lain sehinga kita tidak pusing meskipun PRT sedang mudik sekalipun, mungkin konsep quality of time dicoba disisipkan orangtua sebagai pengimbang di tengah proyek "subkontrak" pendidikan dan pengasuhan anak di dalam keluarga.

Sebab, meskipun para orangtua urban menggunakan dalih menerapkan quality of time dalam pendidikan dan pengasuhan anak di dalam keluarga yang secara praktik dilakukan PRT ataupun baby sitter, namun apakah dengan begitu anak merasa waktu yang diberikan orangtuanya benar-benar berkualitas, benar-benar merasa nyaman dengan hal itu?

Cobalah saja para orangtua meminta konfirmasi pada anaknya yang sudah bisa menjawab dengan baik, dari hati ke hati atas, pertanyaan tersebut. Syukur-syukur sang anak tersebut bisa berkata jujur dan mampu mengekspresikan keinginan terdalamnya tentang apa yang dikehendakinya.

Friedrich Engels (1884) dalam The Origins of the Family, Private Property and the State telah mengingatkan, kapitalisme telah mendikotomi pekerjaan menjadi pekerjaan produktif dan pekerjaan tidak produktif.

Pekerjaan produktif merujuk pada pekerjaan seperti di pabrik-pabrik industri dan di pelbagai tempat kerja lain yang menjadi bagian mesin besar kapitalisme. Sementara pekerjaan tidak produktif merujuk sektor privat di rumah tangga.

Dari situ kemudian para pekerja yang notabene berasal dari sektor privat rumah tangga ditarik diri dan waktunya untuk masuk ke dalam sektor produksi ke pabrik-pabrik-pabrik dan ke dalam mesin-meain produksi kapitalisme lainnya. Sementara sektor privat menjadi terbengkalai karena dipandang tidak produktif, yang dicoba untuk disolusikan lewat kehadiran PRT dan baby sitter.

Lantas, ketika pekerjaan domestik, termasuk mengasuh dan mendidik anak di rumah, dari para keluarga urban bergeser menjadi sekedar pekerjaan tidak produktif, masih besarkah ruang untuk tetap berharap anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan tangguh, berbalur cinta dan kasih sayang sejati orangtuanya, yang mampu menyerap dan mewarisi nilai-nilai baik serta budi pekerti unggul sebagaimana diharapkan orangtuanya?

Tentu hanya kodrat sejati Anda sebagai orangtua yang bakal sanggup merefleksikan dan menjawab hal tersebut dengan sejujur-jujurnya.

Dan meskipun mungkin cuma sementara waktu saja, selamat menikmati keseharian tanpa PRT dan baby sitter yang masih mudik lebaran, wahai keluarga muda urban menengah-atas.

Editor: Nanang Djamaludin

Tags

Terkini

Manusia Silver

Minggu, 3 Oktober 2021 | 17:30 WIB

Korupsi, Nilai Agama dan Kompartementalisasi

Minggu, 26 September 2021 | 18:00 WIB

Membawa Anak ke Mal Saat PPKM , Apa Pentingnya?

Kamis, 23 September 2021 | 12:45 WIB

Gabriella Maelani

Senin, 20 September 2021 | 06:00 WIB

Kartu Prakerja "Rumah Cokro Raksasa" di Era Digital

Minggu, 19 September 2021 | 20:00 WIB

Mampukah Indonesia 'Mengatur' AS dan China di G20?

Minggu, 19 September 2021 | 13:05 WIB

Proyek Strategis MBTK yang Tersandera

Kamis, 9 September 2021 | 11:30 WIB

Urgensi PPHN dan Visi Indonesia 2045

Sabtu, 4 September 2021 | 08:55 WIB

Keadilan Sosial Sebagai Pondasi Kemajemukan

Kamis, 2 September 2021 | 08:20 WIB

Konsolidasi Demokrasi di Era Pandemi

Rabu, 1 September 2021 | 10:35 WIB

Ekulibrium Pandemi dan Infodemi Covid-19

Sabtu, 31 Juli 2021 | 16:00 WIB
X