• Minggu, 19 September 2021

"Mohammad Hatta" Sekitar Proklamasi

- Rabu, 25 Juli 2018 | 13:55 WIB

Strategi.id - Resensi Buku "Mohammad Hatta" Sekitar Proklamasi

Siapa yang tidak kenal dengan Yang Mulia Wakil Presiden Pertama Republik Indonesia Mohammad Hatta yang sekaligus juga Sang Proklamator. Siapa pula yang tidak mengenalnya sebagai sosok negarawan yang santun, cerdas, bersahaja, bersih dan jujur tetapi sekaligus juga tegas dan berintegritas.

Tak heran dengan sosok karakter yang memiliki bedrock principles, Bung Hatta lebih mampu berperan sebagai negarawan ketimbang sebagai politisi. Itu pula sebabnya mengapa seorang Mohammad Hatta merasa harus menulis sebuah buku yang berjudul "SEKITAR PROKLAMASI" sebagai upaya untuk meluruskan berbagai manipulasi sejarah atas peristiwa yang terjadi antara tanggal 9 Agustus hingga 19 Agustus 1945. Jika Bung Karno dikenal melalui salah satu pidatonya JASMERAH (Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah), maka boleh dikatakan Bung Hatta melalui buku ini secara implisit ingin menyatakan JAKETMERAH (Jangan Keterlaluan Memanipulasi Sejarah).

Buku ejaan lama dengan Kata Pengantar yang ditulis sendiri oleh Bung Hatta adalah cetakan kedua yang diterbitkan oleh penerbit Tintamas pada April 1970 setelah cetakan pertamanya Januari 1970 telah habis terjual cepat. Dengan ketebalan sebanyak 79 halaman, apa yang ditulis oleh Bung Hatta lebih seperti laporan pandangan mata secara langsung dari seorang pelaku peristiwa tentang apa yang terjadi sesungguhnya ketika itu untuk membantah berbagai "dongeng heroik" yang berkembang luas.

Meminjam istilah Bung Karno tentang "rodinda" dalam Revolusi, apa yang dipaparkan Bung Hatta sungguh menggambarkan romantika, dinamika dan dialektika (rodinda) dari realita sesungguhnya yang ternyata bagaikan bumi dan langit dengan apa yang selama ini tersiar luas.

"Dongeng heroik" yang tersiar luas selama ini bahwa Soekarno-Hatta akhirnya "terpaksa" memproklamasikan kemerdekaan Indonesia setelah diculik oleh sekelompok anak muda untuk kemudian dibawa ke Rengasdengklok ternyata tidak benar menurut Bung Hatta. Ia bahkan mengatakan sebaliknya, jika Soekarno-Hatta tidak diculik ke Rengasdengklok, maka proklamasi kemerdekaan bahkan seharusnya bisa sehari lebih cepat dari apa yang terjadi.

Peristiwa demi peristiwa dipaparkan oleh Bung Hatta secara kronologis dan terinci. Semisal peristiwa ketika Bung Hatta di kediamannya didatangi oleh dua orang pemuda yang bernama Subadio Sastrosatomo dan Subianto (paman dari Prabowo Subianto dan anak dari Margono Djojohadikusumo) pada sore hari tanggal 15 Agustus 1945 dengan maksud memaksa Bung Hatta untuk meyakinkan Bung Karno agar segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia melalui corong radio untuk kemudian langsung mengambil alih kekuasaan dari Jepang tanpa melibatkan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang telah resmi dibentuk.

Juga peristiwa yang terjadi sehari sebelum kedatangan kedua pemuda tersebut di atas tentang pertemuan segitiga antara Bung Hatta, Bung Sjahrir dan Bung Karno tepatnya pada sore hari tanggal 14 Agustus 1945 di kediaman Bung Karno, dengan tegas Bung Karno menolak usul Sjahrir yang menginginkan pernyataan kemerdekaan janganlah dilakukan oleh PPKI sebab menurutnya akan membuat Indonesia dicap oleh pihak Sekutu sebagai buatan Jepang. Lagi-lagi menurut Bung Sjahrir sebaiknya Bung Karno sendiri saja menyatakannya sebagai pemimpin rakyat atas nama rakyat dengan perantaraan corong radio. Atas usul Bung Sjahrir, Bung Karno menjawab dengan tegas, "Saya tidak berhak bertindak sendiri, hak itu adalah hak dan tugas Panitia Persiapan Kemerdekaan, yang saya menjadi ketuanya. Alangkah janggalnya di mata orang, setelah kesempatan terbuka untuk mengucapkan kemerdekaan Indonesia saya bertindak sendiri melewati Panitia Persiapan Kemerdekaan yang saya ketuai."

Yang tak kalah menarik adalah peristiwa bagaimana Bung Karno didesak oleh sekelompok pemuda supaya malam itu juga tanggal 15 Agustus 1945 diproklamasikan kemerdekaan Indonesia melalui corong radio. Bung Karno tetap pada pendiriannya seperti apa yang telah disampaikan kepada Bung Sjahrir sehari sebelumnya sementara para pemuda tetap berkeras pada pendiriannya bahwa itulah jalan Revolusi.

Perdebatan semakin sengit lalu seorang pemuda bernama Wikana mengancam, "Apabila Bung Karno tidak mau mengucapkan pengumuman kemerdekaan itu malam ini juga, besok akan terjadi pembunuhan dan penumpahan darah."
Mendengar ancaman tersebut Bung Karno naik pitam dan berjalan menuju ke arah Wikana sambil menunjukkan lehernya dan berkata, "Ini leher saya, seretlah saya ke pojok itu dan sudahilah nyawa saya malam ini juga, jangan menunggu sampai besok!!!"

Dari semua peristiwa yang dipaparkan oleh Bung Hatta, hal paling menarik adalah peristiwa seputar apa yang terjadi setibanya Bung Hatta dan Bung Karno di Rengasdengklok pada tanggal 16 Agustus 1945. Bung Hatta seperti yang dituliskan dalam bukunya di halaman 47 mengatakan, "Kami menghabiskan hari di Rengasdengklok dengan tidak mengerjakan apa-apa, kecuali menjaga Guntur (bersama Ibu Fatmawati ikut dalam rombongan Bung Karno)."

Tepat pada pukul 18.00 Sukarni datang bersama Mr. Subardjo salah seorang anggota PPKI untuk menjemput dan membawa Bung Karno dan Bung Hatta kembali ke Jakarta. dalam kesempatan itu Subardjo menyampaikan berita bahwa keadaan di Jakarta normal seperti biasa tidak terjadi apa-apa. Subardjo juga sempat langsung berkata kepada Sukarni, "Buat apa pemimpin-pemimpin kita berada disini, sedangkan banyak hal yang harus dibereskan selekas-lekasnya di Jakarta. Sebab itu saya datang kemari untuk menjemput saudara-saudara kembali ke Jakarta."

Juga pertanyaan Bung Hatta kepada Subardjo, "Apakah Panitia Persiapan Kemerdekaan jadi berapat tadi pagi?" Yang kemudian dijawab oleh Subardjo, "Apa yang akan dikerjakan mereka. Saudara-saudara yang mengundang mereka rapat, tidak ada, berada disini."

Dialog-dialog yang terjadi di dalam buku tersebut tidak membuat buku tersebut lantas terkesan seperti sebuah novel tetapi lebih ingin memberikan gambaran atas apa yang sesungguhnya terjadi tanpa memberi tafsir yang bertendensi pada kepentingan politik kelompok tertentu. Ini semakin menguatkan bahwa buku berjudul "SEKITAR PROKLAMASI" tulisan Bung Hatta memang hadir lebih sebagai "buku putih" tentang apa yang terjadi seputar Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 untuk meluruskan berbagai penyimpangan sejarah ala "dongeng heroik" yang sengaja dibuat untuk kepentingan politik kelompok tertentu.

Dengan kata lain, setelah membaca buku ini, sulit akhirnya untuk tidak menyimpulkan bahwa sesungguhnya upaya penculikan terhadap kedua Proklamator tersebut bukanlah sebuah upaya untuk mempercepat proklamasi kemerdekaan Indonesia melainkan sebuah upaya sabotase agar mereka gagal memproklamasikan kemerdekaan Indonesia sehingga memberi kesempatan kepada kelompok politik tertentu untuk mengambil alih proses Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Sekali lagi, dengan buku ini Bung Hatta sebagai seorang negarawan secara implisit hanya ingin mengatakan, "JAKETMERAH !!!!!"

JANGAN KETERLALUAN MEMANIPULASI SEJARAH !!!!!

Editor: Bobby San

Tags

Terkini

Proyek Strategis MBTK yang Tersandera

Kamis, 9 September 2021 | 11:30 WIB

Urgensi PPHN dan Visi Indonesia 2045

Sabtu, 4 September 2021 | 08:55 WIB

Keadilan Sosial Sebagai Pondasi Kemajemukan

Kamis, 2 September 2021 | 08:20 WIB

Konsolidasi Demokrasi di Era Pandemi

Rabu, 1 September 2021 | 10:35 WIB

Ekulibrium Pandemi dan Infodemi Covid-19

Sabtu, 31 Juli 2021 | 16:00 WIB

Upaya Menegasi Esensi Reformasi 1998

Selasa, 22 Juni 2021 | 09:00 WIB
X