• Sabtu, 18 September 2021

Indonesia Panggung Simulacra

- Rabu, 22 Agustus 2018 | 15:11 WIB
Stategi.id - Indonesia Panggung Simulacra
Stategi.id - Indonesia Panggung Simulacra

Strategi.id - Munculnya dua pasangan Calon presiden dan Wakil Presiden pada Pemilu 17 April 2019 hanya sekedar menjadi pertarungan ulang (rematch) antara Prabowo Subianto vs Joko Widodo pada tahun 2014 . Perseteruan dua kubu paska Pilpres 2014 yang tak kunjung usai terus berlangsung seolah tak kenal lelah berpacu untuk saling mengumpat dan tak pernah henti berbalas pantun untuk saling menghujat telah berubah menjadi perang hashtag yang viral menghiasi berbagai media massa dan media sosial.

Apapun yang dilakukan oleh keduanya akan menjadi fokus utama pasokan bahan baku yang kemudian digoreng oleh kedua kubu untuk menjadi peluru kata kata yang akan disiarkan dan disuarkan demi sebesar besarnya elektabilitas dan popularitas yang bisa diraih.

Bara api perseteruan semakin berpijar memanas sejak ditetapkannya secara resmi dua paslon Presiden dan Wakil Presiden pada Pemilu 17 April 2019, pasangan Prabowo Subianto - Sandiaga Uno vs Joko Widodo - Ma’ruf Amin. Dalam Perang Generasi V, semua punya jurus pencitraan yang sama digunakan secara proxy untuk saling memperburuk citra dan membunuh karakter lawan politiknya.

Bahkan ketika keduanya bersiasat untuk membangun citra politik yang gemerlap dan gegap gempita, tetap saja akan berakhir dengan berbagai tudingan negatif sebagai bagian dari perang propaganda pencitraan oleh pasukan cyber army kedua kubu melalui kampanye hitam yang sangat sistematis.

Prabowo dengan brand image sebagai seorang mantan perwira tinggi militer ingin mencoba tetap hadir dengan mencitrakan dirinya sebagai seorang pahlawan penyelamat yang meski kesiangan tetap dengan gagahnya berjalan menunggang kuda memeriksa pasukan sambil di pinggangnya terselip sebelah keris untuk memberikan aksentuasi adanya legitimasi kultural atas kehadirannya sebagai sosok pemimpin yang mewarisi kekuatan sejarah masa lalu.

Sandiaga Uno yang muda, kaya dan berpenampilan menarik, mewakili citra generasi milenial kekinian yang sukses secara ekonomi di usia muda tanpa perlu lagi harus meributkan dan bertanya tanya bagaimana caranya ia mencapai kesuksesannya. Kombinasi keduanya dimaksudkan mampu menyasar ceruk suara dengan spektrum segmentasi yang lebih luas.

Berbeda dengan calon Presiden petahana Joko Widodo yang berhasil memenangkan kontestasi Pilpres 2014 dengan modal citra diri penuh kesahajaan dan mengutamakan kerja keras.

Dalam pertarungan kali ini nampaknya Jokowi harus me-leverage citra politiknya yang selama ini jadi bulan bulanan kelompok kelompok yang mengatasnamakan agama Islam dengan menggandeng sosok kharismatik islam yaitu K.H. Ma’ruf Amin yang juga adalah Ketua MUI sekaligus Rais Aam PB Nahdlatul Ulama demi menepis isu agama yang terus menerornya.

Tak cukup dengan itu, citra kesahajaan dan kerja keras kali ini ditampilkan secara atraktif dan dramatis dengan kemasan milenial ala film laga Holywood melalui pemunculan gimmick-nya yang bombastis penuh dengan kejutan dan kehebohan saat berlangsungnya Pembukaan Asian Games 2018.

Tak terbayangkan betapa riuh dan hebohnya kontestasi yang akan berlangsung hingga saatnya tiba hari pemilihan pada 17 April 2019. Meski masa kampanye secara resmi belum dimulai, tetapi perang propaganda pencitraan telah berlangsung dan ekskalasinya akan semakin meningkat dari waktu ke waktu berpotensi menciptakan turbulensi politik pada Pilpres 2019.

Turbulensi politik yang menghasilkan arus energi putaran yang semakin lama semakin membesar hingga mampu menyihir kesadaran publik untuk secara emosional terbetot masuk dalam arus pusaran proses tarik menarik, tendang menendang, pukul memukul, cakar mencakar yang berpotensi terjadinya konflik horisontal secara masif baik sporadik insidental maupun kolosal terstruktur dan sistematis.

Namun bagi mereka yang memiliki kewarasan budi nurani kemanusiaan dan kecerdasan akal pekerti tentu mampu berpikir dari luar kotak (thinking outside the box) dengan cara pandang mata burung (bird’s-eye view) untuk melihat betapa perang propaganda pencitraan dalam praktek demokrasi liberal yang sedang berlangsung bukan hanya sekadar pseudo-demokrasi, tetapi lebih dari itu adalah praktek demonkrasi dimana demokrasi telah berubah sifat dan perilakunya menjadi demonik yang serba penuh dengan tipu daya kemesuman, kenistaan, cemar, kejam, bengis dan keji.

Praktek politik yang tengah dan masih akan berlangsung selama Pilpres 2019 menjadi anggukan kepala atas apa yang disebut oleh seorang sosiolog politik Perancis yang bernama Jean Baudrillard (1929-2007) sebagai “The Precession of Simulacra” yang menggambarkan bagaimana sebuah masyarakat mengalami kejenuhan oleh simulacra (plural) dan juga jenuh atas konstruksi masyarakat dimana segala sesuatu yang berarti dengan mudah dibuat bermutasi menjadi sesuatu yang tidak berarti.

Dalam bukunya Simulacra and Simulation (1981) bahkan Baudrillard sengaja langsung mempertontonkan simulacra dan simulasi melalui kutipannya tentang simulacra, “The Simulacrum (singular) is never that which conceals the truth---it is the truth which conceals that there is none. The simulacrum is true. –Ecclesiastes--.”

Terlihat betapa “simulacra” sedang dimainkan oleh seorang Baudrillard ketika menulis Ecclesiastes sebagai kutipan. Ecclesiastes adalah bagian dari Kitab Injil Perjanjian Lama yang terdiri dari 12 Pasal beserta ayat-ayat di dalamnya.

Dalam Kitab Injil Perjanjian Lama Bahasa Indonesia, Ecclesiastes diterjemahkan sebagai Pengkhotbah.
Tetapi bagi mereka yang jeli membacanya, pasti akan menangkap simulacra yang sedang dimainkan oleh Baudrillard dimana kutipan Ecclesiastes yang dicantumkan tanpa menyebutkan pasal dan ayat dari kutipan tersebut berasal.

Tentu saja banyak yang jadi korban keusilan si “Ecclesiastes” ketika ada yang ingin mengafirmasi kebenaran “ayat” tersebut di dalam Kitab Injil Perjanjian Lama karena pastinya kalimat tersebut tidak pernah tertulis disana. Baudrillard sengaja membuat simulasi secara langsung tentang bagaimana simulacra yang dihasilkan berlangsung.

Ecclesiastes yang bermakna pengkhotbah sengaja dihadirkan justeru dalam makna realitanya bukan dalam gambar dan citra biblikal yang sudah tertanam di kepala banyak umat Kristiani. Dengan kata lain, Baudrillard ingin mengatakan bahwa Ecclesiastes yang ia maksud itu adalah dirinya dan bukan si Pengkhotbah seperti yang dimaksud dalam Kitab Perjanjian Lama.

Bagi Baudrillard, simulasi adalah proses dimana realitas dirampas sedang simulacrum adalah istilah untuk kondisi yang dihasilkan yaitu suatu sistem dimana gambaran atau citra yang digunakan kosong tanpa arti merujuk pada kondisi itu sendiri dimana tidak terdapat lagi makna dan nilai di dalamnya.

Menurut Baudrillard ada empat tahapan yang digunakan dalam simulacra dan simulasi. Tahap pertama yang disebut sebagai “the sacramental order” adalah gambaran atau citra yang melekat dan diyakini sebagai kebenaran, itulah tanda dari refleksi atau pantulan dari realitas sejati yang mampu ditampilkan dengan baik.

Tahap kedua dimulai ketika muncul adanya penyimpangan terhadap realitas. Saat dimana muncul keraguan terhadap gambaran atau citra yang semula dengan setia diikuti sebagai pantulan dari realitas sejati berubah nampak seperti topeng dengan wajah yang menyeramkan.

Di titik itu, gambaran atau citra tidak lagi sesuai dengan realitas yang ditampakkan bahkan justru mampu menengarai kehadiran dari realita yang sesungguhnya dimana gambaran atau citra tidak lagi mampu menutupinya.

Tahap ketiga, topeng-topeng ditampilkan penuh pencitraan untuk menutupi ketiadaan realitas sejati dengan mencoba berseolah-olah masih seperti apa yang nampak di awal.

Pada tahap ini, gambaran dan citra dianggap mewakili sepenuhnya realitas namun tanpa ada sedikitpun keterwakilan dari realitas sejati yang tersisa. Baudrillard menyebutnya sebagai “the order of sorcery”, sebuah istilah yang dengan satir dilukiskannya sebagai sebuah rezim aljabar semantik berupa kumpulan angka-angka dimana pemahaman manusia disihir secara artifisial untuk semakin tampil sebagai rujukan dari kebenaran yang tak terbantahkan.

Tahap keempat murni merupakan proses simulasi dimana simulacrum sama sekali tidak terkait dengan realitas apapun itu. Di tahap ini, gambaran dan citra tidak lebih hanyalah gambaran dan citra dari apa yang dianggap realitas yang merupakan bagian dari rangkaian gambaran dan citra dari apa yang dianggap sebagai realitas. Inilah rezim ketotalsetaraan dimana produk-produk budaya tidak lagi diperlukan bahkan hanya untuk sekedar berseolah-olah ada meski penuh kenaifan.

Ini terjadi akibat dari pengalaman hidup yang didominasi oleh hal-hal serba artifisial yang bahkan dianggap sebagai realitas yang diharapkan akan dinyatakan dengan cara yang artifisial pula. Bahkan setiap pretensi naïf terhadap realitas dirasakan sebagai hilangnya kesadaran diri untuk bersikap kritis yang dengan mudahnya dicap sebagai oversentimental.

Pada tahap akhir ini bangsa Indonesia telah hidup terjebak dalam dunia hiperealitas sehingga kehilangan kemampuan atas kesadarannya untuk membedakan antara realita dan ilusi dalam ruang budaya post modern berteknologi tinggi yang mampu mengkombinasikan teori matrix dan fractal geometry dalam kemasan teknologi informasi yang mampu mengamplifikasi simulacra dan simulasi hingga ke seluruh penjuru dunia tanpa batasan ruang dan waktu melalui media massa dan media sosial.

Pengaruh dari kepentingan asing yang ikut serta terlibat di dalam Pilpres 2019 makin menjadikan media massa dan media sosial memainkan peranan penting sebagai alat yang mumpuni untuk dijadikan mesin perang proxy oleh kepentingan asing. Ini merupakan tahapan penting dari proses simulasi dan simulacra yang “by designed” dimaksudkan untuk menciptakan “The Precession of Simulacra” dalam wujud histeria massa secara global dan situasi chaotic yang tidak terkendali.

Berbagai hal yang dilakukan oleh para paslon Presiden dan Wakil Presiden dengan berbagai jargon kampanye beserta visi dan misinya nampak seolah membawa angin segar yang menawarkan perubahan besar meski tak bisa dipungkiri masih terjebak pada politik hiperealitas yang diwarnai oleh silang pendapat pro dan kontra dari waktu ke waktu baik secara langsung maupun secara viral di media massa dan di media sosial.

Fenomena tersebut diatas akhirnya lagi lagi tidak lebih hanya menjadi anggukan kepala betapa masyarakat Indonesia saat ini tengah mengalami histeria massa akibat penggunaan simulacra yang overdosis dalam politik hiperealitas yang membuka celah terjadinya konflik horisontal dimana masa depan perikehidupan bertanah air, berbangsa dan bernegara sedang dipertaruhkan.

Masih dalam suasana Peringatan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia ke 73, apa yang terjadi saat ini justru mengantar pada sebuah keprihatinan betapa ternyata Indonesia tak lebih cuma panggung simulacra yang berpotensi menimbulkan arus balik tsunami politik yang mampu meluluhlantakan mega bangunan bernama Indonesia.

Penulis Mahendra Dandhi Uttungadewa aktif sebagai Pengamat Budaya dan Mantan Aktivis FKSMJ'98 

Editor: Danar Priyantoro

Tags

Terkini

Proyek Strategis MBTK yang Tersandera

Kamis, 9 September 2021 | 11:30 WIB

Urgensi PPHN dan Visi Indonesia 2045

Sabtu, 4 September 2021 | 08:55 WIB

Keadilan Sosial Sebagai Pondasi Kemajemukan

Kamis, 2 September 2021 | 08:20 WIB

Konsolidasi Demokrasi di Era Pandemi

Rabu, 1 September 2021 | 10:35 WIB

Ekulibrium Pandemi dan Infodemi Covid-19

Sabtu, 31 Juli 2021 | 16:00 WIB

Upaya Menegasi Esensi Reformasi 1998

Selasa, 22 Juni 2021 | 09:00 WIB
X