• Minggu, 26 September 2021

Sumpah Pemuda Dalam Dialektika Sejarah

- Senin, 29 Oktober 2018 | 09:00 WIB
Strategi.id- Pemuda Berfoto di depan Gedung Oost-Java Bioscoop 28 Oktober 1928 ( Foto : Is)
Strategi.id- Pemuda Berfoto di depan Gedung Oost-Java Bioscoop 28 Oktober 1928 ( Foto : Is)

Tulisan ini terdiri dari 2 bagian, bagian pertama dengan judul "90 Tahun Sumpah Pemuda, Bangsa Yang Ingkar" dan tulisan ke dua dengan judul "Sumpah Pemuda Dalam Dialektika Sejarah".

Sumpah Pemuda Dalam Dialektika Sejarah

Strategi.id-Pengetahuan tentang peristiwa berkumpulnya sekitar 80 orang pemuda sejak tanggal 27 Oktober hingga 28 Oktober 1928 yang diakhiri dengan keluarnya sebuah maklumat dan kemudian dikenal sebagai Sumpah Pemuda dalam konteks kesejarahan seringkali abai untuk menyertakan informasi tentang siapa dan apa yang terlibat di dalamnya seolah maklumat tersebut begitu saja jatuh dari langit.

Mereka yang datang berkumpul berasal dari berbagai wakil organisasi pemuda yang ada pada waktu itu seperti antara lain Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Sekar Rukun, Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI), Pemuda Kaum Betawi, dll. Di antara yang hadir terdapat pula beberapa nama Tionghoa yaitu Oey Kay Siang, John Lauw Tjoan Hok dan Tjio Djien Kwie dan Kwee Thiam Hiong. Turut hadir juga 2 perwakilan dari Papua yakni Aitai Karubaba dan Poreu Oheedari.

Sulit membayangkan suatu kegiatan kolosal yang sangat monumental dan menyejarah mampu diselenggarakan dengan cara seksama di tengah situasi keadaan dalam ruang, waktu dan peristiwa dimana keterhubungan komunikasi dan korespondensi masih serba manual dan analog dengan segala keterbatasan teknologinya, bahkan berada dibawah represi dan opresi dari pihak Belanda yang jelas jelas ingin tetap mempertahankan hegemoninya terhadap wilayah jajahan.

Tetapi itu semua menjadi terjelaskan secara dialektis dalam konteks kesejarahan yang tidak bisa begitu saja dipisahkan dari satu peristiwa yang terjadi 2 tahun berturut turut sebelumnya. Peristiwa-peristiwa yang seringkali terlupakan dalam rangkaian proses dialektika kesejarahan Indonesia dengan diawali oleh Kongres Pemuda I pada tahun 1926 yang belum mencapai kesepakatan bulat.

Setahun kemudian dilanjutkan pertemuan 39 Raja-Raja Nusantara Di Istana Tampaksiring, Bali pada tahun 1927. 39 Raja yang hadir merupakan representasi dari semua kerajaan termasuk juga raja raja kecil yang tersebar di seluruh Nusantara seperti halnya kawasan Sulawesi yang diwakili oleh Puang Mua. Bahkan tiga raja diantaranya adalah raja-raja dari Melayu yang akhirnya menyempal akibat iming-iming dari Inggris untuk membuat negara sendiri yang sekarang bernama Malaysia.

Pertemuan yang menghasilkan semacam traktat antara kerajaan kerajaan se-Nusantara bukanlah sekedar suatu perjanjian politik yang bersifat taktis sebagai bagian dari proses konsolidasi kekuatan dalam konteks perlawanan terhadap Belanda. Namun lebih dari itu merupakan suatu perjanjian yang bersifat profetik atas lahirnya suatu bangsa baru dengan bahasa baru. Suatu kaum yang cerdas dan merdeka untuk mengembalikan tata peradaban mondial pada titik keseimbangan dan kesetimbangan baru seperti apa yang pernah kembali ditegaskan oleh Presiden Soekarno dalam pidatonya “To Build the World A New”di Sidang Umum PBB pada 30 September 1960.

Pada konteks itu 3 butir kesepakatan yang dicetuskan dalam Piagam Putusan Kongres Pemuda Pemuda Indonesia 1928 menjadi satu rangkaian peristiwa yang tidak terpisahkan baik dengan Kongres Pemuda I tahun 1926, maupun dengan pertemuan 39 Raja-Raja Nusantara Di Istana Tampaksiring, Bali pada tahun 1927. Butir butir kesepakatan tersebut adalah :

  1. Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia

  2. Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia

  3. Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.


Ketiga hal tersebut di atas harus tetap mendasarkan kepada 5 hal utama seperti yang tertuang dalam Piagam Kongres Pemuda, yaitu :

  1. Kemauan

  2. Sejarah

  3. Bahasa

  4. Hukum Adat

  5. Pendidikan dan Kepanduan.


Kelima hal tersebut menjadi satu kesatuan pemahaman dasar yang utuh dan tidak terpisahkan dari 3 butir kesepakatan yang telah ditetapkan.

Atas dasar itu maka peristiwa Sumpah Pemuda dalam perspektif Jean-Jacques Rousseau dalam bukunya “Du contrat social ou Principes du droit politique (1762) merupakan sebuah kontrak sosial yang terlahir dari kemauan yang signifikan dari segenap anak negeri untuk melahirkan sebuah bangsa dimana ketika itu negara belum lagi hadir.

Negeri secara semantik tentu berbeda maknanya dari Negara. Perbedaannya akan terlihat dari unsur unsurnya. Jika Negara unsur unsurnya terdiri dari Pemerintah, Rakyat, Wilayah dan Konstitusi, maka unsur unsur Negeri terdiri Peradaban, Bangsa, Tanah Air dan Budaya. Tak salah apabila kunci peradaban ada di tangan bangsa yang dengan budaya adiluhungnya mampu menggerakkan perikehidupan bertanah air, berbangsa dan berbahasa untuk hidup serta saling menghidupi dengan tetap setia berpegang teguh menjaga dan memelihara keseimbangan dan kesetimbangan naturnya, tanah airnya.

Baca juga Bagian pertama : 90 Tahun Sumpah Pemuda, Bangsa Yang Ingkar

Baca juga : Indonesia Panggung Simulacra

Dari apa yang diamanatkan dalam Piagam Putusan Kongres Pemuda Pemuda Indonesia, kelima hal tersebut semestinya dihadirkan kembali dalam momentum Peringatan 90 Tahun Sumpah Pemuda agar kaum muda negeri ini tersadar akan eksistensi dirinya sebagai bagian dari warga bangsa yang terpikul dan memikul naturnya.

  1. Kemauan


Yang dimaksud dengan kemauan dalam hal ini adalah bagaimana secara transendental mampu menangkap ketepatan makna atas maksud (significant intention) dari peristiwa yang berlangsung pada forum Pertemuan 39 Raja se Nusantara di Tampaksiring, Bali tahun 1927, serta situasi batin yang berkembang dalam forum Kongres Pemuda Pemuda Indonesia, baik Kongres Pemuda I di Jakarta, 30 April 1926 sampai 2 Mei 1926 dan Kongres Pemuda II, 28 Oktober 1928 sebagai sebuah kelanjutan dari Pertemuan 39 Raja se Nusantara di Tampaksiring, Bali tahun 1927.

Ketepatan makna atas maksud inilah yang perlu direvitalisasi, direinterpretasi, direaktualisasi dan disignifikasi dalam konteks kekinian dan kedisinian untuk kemudian kembali disuarkan dan disiarkan secara luas agar dapat membuka perspektif tentang bagaimana semestinya perikehidupan bertanah air, berbangsa dan bernegara dalam bingkai keindonesiaan sehingga bisa menjadi inspirasi yang cerdas dan bernas serta bermartabat bagi segenap anak negeri dalam menyikapi berbagai permasalahan yang berkembang saat ini.

  1. Sejarah


Menghadirkan kembali rangkaian peristiwa kesejarahan sebagai sebuah proses penyadaran kembali yang bisa memberikan keutuhan pemahaman atas benang merah keterhubungan antar setiap peristiwa di masa lalu sehingga mampu menangkap apa yang sesungguhnya menjadi kemauan sejarah atas masa depan yang lebih berjaya.

  1. Bahasa


Memang “Bahasa menunjukkan bangsa”, namun bukan berarti bahasa hanya sekadar identitas dari sebagai sebuah bangsa, tetapi juga merupakan ekspresi kecerdasan dan keberadaban sebuah bangsa. Kesadaran keindonesiaan dengan menjunjung bahasa persatuan yaitu bahasa Indonesia, tidak pula berarti menegasikan dan meniadakan bahasa daerah sebagai wujud dari kecerdasan dari kemampuan dalam berkomunikasi yang sarat dengan keberagaman budaya dan kepelbagaian adat istiadat yang tertuang dalam segala hukum dan tata aturannya.

  1. Hukum Adat


Keberagaman budaya dan kepelbagian adat istiadat menjadi akar dari bertumbuhnya Bhinneka Tunggal Ika sekaligus merupakan wujud dari kearifan lokal yang menjadi tata ciri dan tata cara peradaban berbudi pekerti luhur yang mensyaratkan terselenggaranya hukum adat sebagai pranata kehidupan yang mengatur bagaimana tata pola hubungan baik antara manusia dengan Tuhan, antar sesama manusia serta manusia dengan alam lingkungan hidup tempat tinggalnya sesuai dimana bumi dipijak disitu pula langit dijunjung.

  1. Pendidikan dan Kepanduan


Kemampuan suatu bangsa untuk bisa bertahan hidup bahkan berkembang semakin maju sangat ditentukan oleh sejauh mana proses ilmu pengetahuan dan kearifan lokal bisa terjaga kemurniannya, terpelihara keasliannya, terajarkan kearifannya dan mampu untuk terus berkembang secara dinamis sesuai perkembangan jaman dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pendidikan yang mencerdaskan kehidupan bangsa.

Nilai nilai tradisi adat istiadat dan sikap kebangsaan tetap diikat oleh nilai nilai perikemanusiaan secara universal serta kemampuan untuk menjaga kohesifitas sosial antar bangsa dan antar manusia secara mondial dengan mendidik setiap anak bangsa agar memiliki jiwa kesatria, gagah berani, dan suka menolong sesama makhluk melalui kegiatan kepanduan (Pramuka).

Hal-hal tersebut di atas yang selama ini justru menjadi kata kunci dari Sumpah Pemuda dengan sengaja justru ditutupi dan tidak pernah diungkap dengan gamblang dan jujur. Tak heran jika dari paparan diatas banyak mereka yang abai bahkan gagal paham untuk menangkap dengan utuh makna yang sesungguhnya dari rangkaian dialektika sejarah yang mengantar pada keputusan Kongres Pemuda II yang kemudian dikenal sebagai momentum Sumpah Pemuda.

Maka jika saat ini kita menemukan adanya situasi karut marut penuh dengan kegaduhan dalam proses perikehidupan bertanah air, berbangsa dan berbahasa; tak lain karena memang ada upaya kesengajaan yang sudah sejak jaman dulu direkayasa dan diinstal secara sistemik untuk membuat semua wargabangsa menjadi ahistoris, kacang yang lupa akan kulitnya.

Potret buram sejarah masa lalu yang kabur sengaja selalu ditampilkan dengan maksud agar bangsa ini tak pernah bisa belajar dari masa lalu dan terus terperangkap dalam situasi konflik adu domba yang berkepanjangan sehingga kehilangan waktu dan energi serta kesempatan untuk mengkonsolidasikan segenap kekuatannya guna menjalankan amanat Preambule UUD ‘45 agar menjadi sebuah bangsa yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur yang mewarisi sejarah kejayaan masa lalu yang gilang gemilang.

Tidak ada kata terlambat bagi mereka yang tersadar untuk bangkit merapatkan barisan demi menyelamatkan negeri ini dari keterpurukan yang tengah menuju pada kemusnahannya. Semoga…

Rawe rawe rantas, malang malang putung…

Sadumuk bathuk, sanyari bhumi…

Youtube:

https://www.youtube.com/watch?v=RvWhVOsTEKU&list=PLoVx96viHUWyldqCFv9JOs0iOBs9JmXeq

Penulis Mahendra Dhandi Uttunggadewa , Pengamat Sosial Budaya

Baca juga Bagian pertama : 90 Tahun Sumpah Pemuda, Bangsa Yang Ingkar

Editor: Danar Priyantoro

Tags

Terkini

Membawa Anak ke Mal Saat PPKM , Apa Pentingnya?

Kamis, 23 September 2021 | 12:45 WIB

Gabriella Maelani

Senin, 20 September 2021 | 06:00 WIB

Kartu Prakerja "Rumah Cokro Raksasa" di Era Digital

Minggu, 19 September 2021 | 20:00 WIB

Mampukah Indonesia 'Mengatur' AS dan China di G20?

Minggu, 19 September 2021 | 13:05 WIB

Proyek Strategis MBTK yang Tersandera

Kamis, 9 September 2021 | 11:30 WIB

Urgensi PPHN dan Visi Indonesia 2045

Sabtu, 4 September 2021 | 08:55 WIB

Keadilan Sosial Sebagai Pondasi Kemajemukan

Kamis, 2 September 2021 | 08:20 WIB

Konsolidasi Demokrasi di Era Pandemi

Rabu, 1 September 2021 | 10:35 WIB

Ekulibrium Pandemi dan Infodemi Covid-19

Sabtu, 31 Juli 2021 | 16:00 WIB
X