• Sabtu, 18 September 2021

Meredam Dendam dan Ganti Nyinyir Dengan Nyengir

- Minggu, 7 Juni 2020 | 12:00 WIB
IMG-20200607-WA0023
IMG-20200607-WA0023


Strategi.id - Babak baru penanganan wabah pandemi Covid-19, kembali memunculkan kebijakan pemerintah dengan istilah kali ini "new normal". Tidak sedikit orang mempertanyakan definisinya. Apakah sama dengan kebijakan terdahulunya yang disebut "social distancing"?. Apakah sekedar perluasan program seperti PSBB atau ada tambahan ketentuan atau aturan dari yang sudah ada?. Kita tidak membahas hal itu secara teknis semata. Menariknya ialah karena masih mengangkat tema seputar jarak sosial. Maka kita coba menyusuri dinamika dan dampak dari kebijakan yang sesungguhnya berakar pada hubungan sesama masyarakat yang tidak hanya pada aspek kesehatan semata, lebih dari itu soal ekonomi dan akhirnya tak terhindarkan dari soal-soal politik. Tentu saja tak bisa memisahkan diri dari soal pemerintahan dan tata-kelola negara. Pastinya ada pro dan kontra, ada oposisi ada koalisi. Ada juga "haters and lovers," ada " buzzer yang kinerjanya sesuai order.





Semua orang berpotensi untuk berproses dan
menjalani hidup baru, dalam keadaan normal ataupun tidak normal. Menikmati kehidupan dalam tekanan ataupun dalam kelonggaran. Dalam kesengsaraan hidup maupun dalam kesenangan hidup. Sesungguhnya kesiapan kita untuk seiring sejalan dan berdamai dengan keadaan kita, apapun dan bagaimanapun situasinya. Sangatlah ditentukan pada apa yang ada dalam diri kita, pada alam kesadaran, suasana jiwa dan kebatinan kita, bukan pada apa yang sudah kita miliki. Kesadaran itulah yang dapat memunculkan harmoni di dalam dan di luar kehidupan kita. Meskipun lebih sering terjadi, kita terbiasa meletakkan penderitaan atau kebahagiaan, terkadang juga soal keselamatan hidup dari faktor luar bukan dari dalam diri. Kita selalu bergantung pada kebendaan, materi dan fasilitas lainnya yang kita inginkan.





Dalam diri kita itulah kita bisa berproses mencipta dan memiliki yang kita butuhkan secara terus menerus seiring batas waktu hidup kita, karena yang sudah kita miliki adalah keadaan awal yang bisa berubah seiring waktu, terbuang dan bisa saja dan kapan saja kita kehilangannya. Karena tidak dibutuhkan lagi atau karena kebosanan. Bisa juga kita berikan atau diambil orang lain. Boleh jadi kita bertukar apa yang kita miliki dengan orang lain, tanpa ada rasa berkurang diantaranya. Lebih istimewa lagi ketika kita memberikan yang kita miliki kepada orang lain tanpa kita merasa kehilangan. Karena keajaiban selalu terbuka saat tanpa disadari atau diduga kita mendapat sesuatu dari pemberian orang lain.





Selain yang utama dalam rangka pemenuhan kebutuhan hidup yang pokok. Penting juga untuk melakukan resolusi terkait membangun suatu hubungan. Pola hubungan yang kita jalani saban hari dalam kehidupan kita, baik secara personal maupun interpersonal. Entah hubungan sosial, ekonomi, politik dan aneka pergaulan lain yang bisa bersama dan berbeda kepentingannya. Bagaimana membangun hubungan inilah yang kemudian bisa merubah diri kita dan orang disekelilingnya. Bahkan pada suatu keadaan yang lebih besar dan kompleks. Pada masyarakat atau negara misalnya, mungkin juga dunia. Hubungan yang bisa mendatangkan kebaikan dan keburukan juga bagi yang merajutnya. Dalam diri kita itu yang menjadi sumber dari apa yang kita hasilkan, terkait bagaimana hubungan yang sudah terjalin dengan orang lain dan sistem di luar kita.





Menjadi faktor penting dan strategis adalah dengan terus berpikir positif dan etos kerja yang memberi kemanfaatan diri maupun banyak orang. Untuk bisa berada dalam posisi itu mutlak diperlukan jiwa besar dan pikiran bijak. Menyiapkan mental tanpa kebencian dan permusuhan. Menerima perbedaan dan tetap melakukan yang terbaik dalam kebersamaan sebagai jatidiri , umat beragama dan sebagai anak bangsa.

Halaman:

Editor: Bobby San

Tags

Terkini

Proyek Strategis MBTK yang Tersandera

Kamis, 9 September 2021 | 11:30 WIB

Urgensi PPHN dan Visi Indonesia 2045

Sabtu, 4 September 2021 | 08:55 WIB

Keadilan Sosial Sebagai Pondasi Kemajemukan

Kamis, 2 September 2021 | 08:20 WIB

Konsolidasi Demokrasi di Era Pandemi

Rabu, 1 September 2021 | 10:35 WIB

Ekulibrium Pandemi dan Infodemi Covid-19

Sabtu, 31 Juli 2021 | 16:00 WIB

Upaya Menegasi Esensi Reformasi 1998

Selasa, 22 Juni 2021 | 09:00 WIB
X