• Sabtu, 18 September 2021

Guruku Sayang Guruku Malang, Belajar Bersama Pandemi Covid-19

- Sabtu, 20 Juni 2020 | 14:00 WIB
IMG-20200620-WA0037
IMG-20200620-WA0037


Strategi.id - Beberapa tahun belakangan, profesi guru menghadapi situasi yang paling krusial dan penuh tantangan. Terutama saat ini, pasalnya fase penerimaan siswa baru berlangsung ketika suasana diselimuti pandemi Covid-19. Selain ancaman keselamatan jiwa pada umumnya, guru masih terus bergelut dengan carut marutnya sistem pendidikan.





Bagaimana tidak?, saban tahun sistem penerimaan siswa baru (PPDB) yang berbasis on line kerap menimbulkan gejolak sosial bagi masyarakat, terlebih orang tua yang anaknya tidak bisa diterima di sekolah negeri. Bukan cuma soal ekonomi, tapi juga rasa keadilan dan kesetaraan (justice and equal). Tidak sedikit anak yang tidak bisa mengenyam dunia sekolah karena gagalnya sistem pendidikan yang semakin liberal dan kapitalistik. Ketika satu saja seorang anak putus sekolah, apalagi karena persoalan biaya dan ukuran kepandaian normatif, maka secara umum negara bisa dianggap telah gagal dalam penyelenggaraan pendidikan nasional. Memang pendidikan tak ubahnya seperti obat yang bisa mengangkat nilai manusia, namun dilain sisi bisa menjadi virus yang ganas yang membunuh mimpi dan harapan anak menatap masa depannya.





Terutama ditengah pandemi Covid-19 yang juga berdampak pada pendidikan dan psikis anak. Keberadaan guru jadi semakin terasa dan sangat dibutuhkan. Tapi sayangnya, tak ada effort yang sungguh-sungguh dari negara untuk memberi perhatian pada guru, bahkan sekedar pengakuan saja. Rasanya, bukan hal yang sulit seorang menteri pendidikan mengatakan, betapa susahnya menjadi seorang guru. Profesi yang menghabiskan waktu sepanjang hidupnya demi mencerdaskan bangsa. Saat kinerja guru terus disorot seiring kurangnya adab, etika dan penghargaan terhadap mereka. Mirisnya, kadang-kadang tidak sedikit guru dikriminalisasi.





Seiring itu pula, orang tua dirumah kebingungan dan penuh kecemasan sembari menutupi fakta betapa sulitnya memberikan pengajaran limu dan pengetahuan umum kepada anaknya. Terutama mengatasi masalah psikologi betapa sekolah telah menjadi Habit dan "life style" tersendiri bagi anak saat sekolah diliburkan panjang, selain pendidikan yang didapat dari keluarga di rumah. Kalau kata lagu Bang H. Rhoma Irama, "kalau sudah tiada baru terasa, sungguh kehadirannya sangat berharga", begitulah ilustrasi senandungnya seakan menyoal guru.





Tak terbantahkan, pandemi Covid-19 memang banyak memberi pelajaran soal rakyat, bangsa dan negara. Wabah ini juga juga memberi hikmah pada banyak orang tentang memaknai kehidupan dan kematian. Namun tidak kalah penting dari itu, menjadi pedoman bagi semua orang tua, tentang betapa fundamennya pendidikan bagi kemanusiaan itu sendiri.

Halaman:

Editor: Bobby San

Tags

Terkini

Proyek Strategis MBTK yang Tersandera

Kamis, 9 September 2021 | 11:30 WIB

Urgensi PPHN dan Visi Indonesia 2045

Sabtu, 4 September 2021 | 08:55 WIB

Keadilan Sosial Sebagai Pondasi Kemajemukan

Kamis, 2 September 2021 | 08:20 WIB

Konsolidasi Demokrasi di Era Pandemi

Rabu, 1 September 2021 | 10:35 WIB

Ekulibrium Pandemi dan Infodemi Covid-19

Sabtu, 31 Juli 2021 | 16:00 WIB

Upaya Menegasi Esensi Reformasi 1998

Selasa, 22 Juni 2021 | 09:00 WIB
X