• Sabtu, 27 November 2021

Penyesalan SBY, dan Keikhlasan Jokowi

- Selasa, 9 Maret 2021 | 10:30 WIB
IMG-20210309-WA0038
IMG-20210309-WA0038

Strategi.id - Ilmu ikhlas merupakan salah satu ilmu yang dipelajari oleh manusia sepanjang umur hidupnya. Ikhlas juga sering menjadi salah satu kriteria seseorang dikatakan layak disebut sebagai pemimpin besar. Keikhlasan identik dengan memafkan kesalahan orang di masa lalu, dan melupakan hal baik yang kita lakukan di masa lalu. Salah satu pemimpin besar dunia yang memperaktikan ilmu ikhlas dalam hidupnya adalah Nelson Mandela, Presiden Afrika Selatan.

Seminggu belakangan, kita kembali melihat sulitnya ilmu ikhlas dipraktikan, bahkan oleh mereka yang telah menjalani proses kehidupan sedemikian rupa dan sempat diposisikan oleh sebagaian orang sebagai seorang negarawan. Salah satu contohnya, bisa kita lihat pada saat konflik di internal Partai Demokrat (PD). Presiden Indonesia ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono (strategi.id/tag/SBY">SBY) dikabarkan menyesali keputusannya pada masa lalu, yang pernah memberikan jabatan Panglima TNI kepada Moeldoko.

Hal itu diutarakan sebagai bentuk kekesalannya karena Moeldoko diputuskan sebagai Ketua Umum PD versi Konfrensi Luar Biasa (KLB) Sumatera Utara, menggeser Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebagai Ketua Umum PD. strategi.id/tag/SBY">SBY seolah memposisikan dirinya paling berjasa dalam karir Moeldoko, baik sebagai seorang militer maupun membuka jalan menuju puncak karir politik.

Moeldoko dianggap sebagai anak macan yang dahulu pernah dibesarkan oleh strategi.id/tag/SBY">SBY, dan kemudian menerkam orang yang membesarkannya. Padahal, jikalau kita kembali ke ilmu ikhlas, strategi.id/tag/SBY">SBY seharusnya tidak perlu lagi mengungkit dan menyesali apa yang pernah dilakukannya untuk Moeldoko. Lebih lagi, jika melihat apa yang dialami strategi.id/tag/SBY">SBY, AHY dan PD-nya, seperti karma yang terbalaskan. strategi.id/tag/SBY">SBY diangkat oleh Presiden ke-4 Megawati Soekarnoputeri sebagai Menkopolhukam. Namun jelang Pilpres 2004, strategi.id/tag/SBY">SBY bermanuver melawan Mega dalam perhelatan pemilu langsung pertama di Indonesia itu.

Jikalau sekarang Moeldoko balik melawan strategi.id/tag/SBY">SBY dan AHY dalam perebutan PD, itu bisa dikatakan sebagai karma. Namun, hal semacam itu wajar terjadi dalam dunia politik yang menganut semboyan, “tidak ada kawan dan lawan abadi, yang ada hanyalah kepentingan abadi,” oleh karena itu, dalam politik dilarang ‘baper’. Namun baik sebagai orang yang melawan ataupun dilawan, strategi.id/tag/SBY">SBY tetap saja mampu memposisikan diri sebagai korban dari kedzaliman orang yang dilawan atau melawannya.

Berbeda dengan strategi.id/tag/SBY">SBY, Presiden ke-7 Joko(wi) Widodo merupakan sosok yang bisa dikatakan ikhlas dalam menjalani hidup dan kepemimpinannya. Sederet nama yang pernah diangkatnya menjadi Menteri pada pemerintahaannya, seperti, Anis Baswedan, Sudirman Said, dan Fery Mursyidan Baldan, sempat bersama-sama melawan dan melontarkan kritik pedas kepada strategi.id/tag/Jokowi">Jokowi, tetapi mantan Walikota Solo itu tak pernah sekalipun mengungkit-ungkit jabatan yang peranah diberikannya kepada para mantan pembantunya itu.

strategi.id/tag/SBY">SBY dan strategi.id/tag/Jokowi">Jokowi sama-sama telah melali jalan panjang kehidupan, dan pernah menduduki posisi tertingggi di Indonesia. Namun keduanya punya sikap yang berbeda dalam menghadapi mantan anak buah yang kemudian memposisikan diri sebagai oposisi atau “melawan”. strategi.id/tag/SBY">SBY menyesali pernah memberikan jabatan strategis, strategi.id/tag/Jokowi">Jokowi ikhlas hadapi mantan bawahannya yang kini beroposisi.

Penulis : Asto Notonegoro (Penulis Strategi.id)

Editor: Bobby San

Tags

Terkini

Ini 10 Pemuda Harapan Bangsa Masih Jauh Dirantau

Rabu, 17 November 2021 | 07:00 WIB

Tantangan Trisakti Bagi Kepemimpinan Milenialist

Selasa, 16 November 2021 | 11:00 WIB

Petani Harus Berdaulat, Berdikari dan Berkebudayaan

Sabtu, 13 November 2021 | 23:00 WIB

Jumat Berkah: Sandal Jepit dan Nilai-Nilai Pancasilais

Jumat, 12 November 2021 | 15:30 WIB

Fenomena Sadfishing di Media Sosial TikTok

Selasa, 9 November 2021 | 11:40 WIB

BPIP Merawat Persatuan Melalui Batik

Rabu, 3 November 2021 | 18:30 WIB

Ketika Terbang Wajib PCR

Sabtu, 23 Oktober 2021 | 14:35 WIB

Manusia Silver

Minggu, 3 Oktober 2021 | 17:30 WIB

Korupsi, Nilai Agama dan Kompartementalisasi

Minggu, 26 September 2021 | 18:00 WIB

Membawa Anak ke Mal Saat PPKM , Apa Pentingnya?

Kamis, 23 September 2021 | 12:45 WIB

Gabriella Maelani

Senin, 20 September 2021 | 06:00 WIB

Kartu Prakerja "Rumah Cokro Raksasa" di Era Digital

Minggu, 19 September 2021 | 20:00 WIB

Mampukah Indonesia 'Mengatur' AS dan China di G20?

Minggu, 19 September 2021 | 13:05 WIB

Proyek Strategis MBTK yang Tersandera

Kamis, 9 September 2021 | 11:30 WIB

Urgensi PPHN dan Visi Indonesia 2045

Sabtu, 4 September 2021 | 08:55 WIB

Keadilan Sosial Sebagai Pondasi Kemajemukan

Kamis, 2 September 2021 | 08:20 WIB
X