• Kamis, 11 Agustus 2022

Teks Pidato Presiden Bung Karno pada Peringatan Maulid Nabi SAW di Istana Negara pada Tahun 1963

- Selasa, 19 Oktober 2021 | 07:00 WIB
Presiden pertama RI Bung Karno saat berpidato. ( (Foto: dok. Perpustakaan Nasional)  )
Presiden pertama RI Bung Karno saat berpidato. ( (Foto: dok. Perpustakaan Nasional) )

Baca Juga: Pidato Bung Karno Tentang Sumpah Pemuda, Semarang 29 Juli 1956

Memang demikian saudara-saudara. Bahkan lebih dulu dari pada itu, di Kairo, kemudian dari Kairo ke Paris. Bahkan di Kairo, tatkala saya nyantol di situ, karena tidak bisa langsung pergi ke Aljazair, tetapi kemudian mengadakan pertemuan yang amat penting dengan Presiden Nasser, Presiden Ayyub Khan, Perdana Menteri Chou En Lai. Di Kairo itu saya tidak berhenti-berhenti ingat. Wah, ini bulan Maulud, ini Bulan Maulid. Kita nanti di Jakarta harus mengadakan Peringatan Maulid yang sebaik-baiknya.

Maka di Kairo itu saya ingat bahwa Hari Maulid atau Perayaan Hari Maulud sebenarnya bukan suatu hal yang wajib. Kita ini hanya mempunyai dua hari besar islam yaitu hari idul fitri dan idul kurban. Cuma dua itu, hari besar kita. Tetapi sebagai saudara-saudara mengetahui, jaman sekarang, salah satu hari yang kita mulyakan, salah satu hari yang kita mulyakan, di dalam perikehidupan kita sebagai umat Islam ialah hari maulid nabi kita yang kita cintai.

Baca Juga: ASN Dilarang Cuti Bepergian Pada Saat Libur Maulid

Dulu beberapa tahun yang lalu telah saya beritahukan pada khalayak ramai bahwa yang mula-mula mengadakan perayaan maulud nabi ialah Shalahudin, panglima perang Islam yang amat termasyhur, Panglima perang di dalam perang salib bahasa belandanya, bahasa inggrisnya “Crussade”. Dari pihak Kristen yang termasyhur panglima perangnya ialah Richard Lion Heart, Ricard Lion Heart, yang spesial dari Inggris datang ke timur untuk memimpin laskar-laskar kristen merebut kembali al Quds.

Dari pihak Islam, panglima perangnya Shalahudin. Ya, ini, satu bukti kehebatan shalahudin dalam psikologi massa untuk membangkitkan semangat Islam sehingga berkobar-kobar kembali. Membangkitkan semangat Islam sebagai semangat perjoangan .

Shalahudin memerintahkan kepada laskarnya, kepada kawan-kawan seagama untuk mengadakan peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. Jadi sebelum Shalahudin perayaan maulud nabi sebagai yang kita kenal sekarang ini, tidak ada. Hanya sesudah diperintahkan, dibiasakan oleh shalahudin maka tiap2 tahun di seluruh umat islam diadakan Peringatan Maulud Nabi.

Baca Juga: Habib Luthfi Undur Maulid Akbar Pekalongan: Jangan Beri Contoh Tak Terpuji

Nah, pada waktu saya di Kairo, sedang sibuk-sibuknya mengadakan pembicaraan dengan presiden Nasser, dengan Perdana Menteri Chou En Lai, dengan–nantinya—Presiden Ayyub Khan dari Pakistan. Sedang sibuk-sibuknya itu, saya tidak lupa ini bulan maulud, ini bulan maulud, ini bulan maulud. Kita harus mengadakan perayaan maulud nabi nanti sebaik-baiknya. Dan saya ingat, yang mula-mula memerintahkan mengadakan maulud nabi, perayaannya adalah Shalahudin.

Kebetulan saudara-saudara, Mesir atau republik persatuan arab, mempunyai satu industri film, kalau sini ya entah Perfai atau Perfi, mempunyai perindustrian film yang membuat film cerita Shalahudin itu. Hampir-hampir seperti film Metro Goldwyn Mayer *** atau hampir-hampir film Metro Goldwyn Mayer The Story of *** .

Halaman:

Editor: Antonius Danar

Artikel Terkait

Terkini

Lima Faktor yang Menyebabkan Serangan Jantung

Kamis, 14 Juli 2022 | 18:30 WIB
X