• Rabu, 20 Oktober 2021

Presiden Jokowi Sampaikan Kontribusi Indonesia Hadapi Situasi Darurat Sektor Energi dan Perubahan Iklim

- Minggu, 19 September 2021 | 11:00 WIB
Presiden Joko Widodo mengikuti Major of Economies on Energy and Climate 2021, Jumat (17/09/2021), secara virtual.  ((Dok/BPMI Setpres).)
Presiden Joko Widodo mengikuti Major of Economies on Energy and Climate 2021, Jumat (17/09/2021), secara virtual. ((Dok/BPMI Setpres).)

STRATEGI.ID- Saat ini, dunia tengah menghadapi situasi sulit dalam sejumlah sektor, termasuk sektor energi dan iklim. Situasi sulit tersebut tidak dapat ditangani oleh satu negara saja, melainkan dibutuhkan aksi bersama dalam skala global.

Hal tersebut disampaikan Presiden Joko Widodo dalam pidatonya pada pertemuan Major Economies Forum on Energy and Climate 2021 melalui konferensi video dari Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, pada Jumat, 17 September 2021.“Kredibilitas, khususnya aksi konkret, sangat krusial,” ujar Presiden Jokowi.

Dalam pertemuan tersebut, Presiden Jokowi menyampaikan komitmen Indonesia untuk berkontribusi dalam menghadapi situasi darurat tersebut. Dari sektor energi, pemerintah telah mencanangkan transformasi menuju energi baru dan terbarukan, serta akselerasi ekonomi berbasis teknologi hijau pada bulan Agustus lalu.

Baca Juga: TNI AL Kerahkan 5 KRI, Tidak Ada Ribuan Kapal Perang Asing di Natuna Utara

“Untuk mewujudkan transformasi ini, kami telah menyusun strategi peralihan pembangkit listrik dari batu bara ke energi baru terbarukan, mempercepat pembangunan infrastruktur energi baru terbarukan yang didukung pelaksanaan efisiensi energi, meningkatkan penggunaan biofuels, dan mengembangkan ekosistem industri kendaraan listrik,” tutur Presiden Jokowi.jokowiBaca Juga: Jokowi Dorong Mobil Listrik? Indonesia Punya Nikel Berlimpah, Tetapi Yang Kontrol Tiongkok

Selain itu, Presiden mengungkapkan bahwa Indonesia telah menargetkan netral karbon (Net Zero) pada tahun 2060 dengan kawasan percontohan yang masih terus dikembangkan.

“Termasuk pembangunan Green Industrial Park seluas 20 ribu hektare, terbesar di dunia, di Kalimantan Utara,” ungkap Presiden.

Baca Juga: Kapolda Banten Apresiasi Bakti Sosial dan Vaksinasi Alumni Akpol Angkatan 1996, 1997, 1998, 1999 dan 2000

Terkait transisi energi, Presiden menuturkan bahwa kemitraan global sangat diperlukan karena transisi energi bagi negara berkembang membutuhkan pembiayaan dan teknologi yang terjangkau.

“Kami membuka peluang kerja sama dan investasi bagi pengembangan bahan bakar nabati, industri baterai litium, kendaraan listrik, teknologi carbon, capture, and storage, energi hidrogen, kawasan industri hijau, dan pasar karbon Indonesia,” imbuhnya.

Halaman:

Editor: Antonius Danar

Sumber: Presiden.go.id

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Pengusaha Kritik Mangkraknya Lahan PRPP Jawa Tengah

Selasa, 19 Oktober 2021 | 18:55 WIB

Menparekraf Buka ‘Tour de Gayo’ Di Aceh

Senin, 18 Oktober 2021 | 11:00 WIB

Padangsidimpuan Meraih Penghargaan Kota Layak Anak

Minggu, 17 Oktober 2021 | 22:40 WIB
X