• Rabu, 20 Oktober 2021

Cukai Rokok Harusnya Bisa Sejahterakan Petani, Itu Kata Ekonom UI

- Jumat, 24 September 2021 | 12:15 WIB
Cukai rokok rencana dinaikan oleh pemerintah pada 2020, tiga akademisi isyaratkan penundaan. (Istimewa)
Cukai rokok rencana dinaikan oleh pemerintah pada 2020, tiga akademisi isyaratkan penundaan. (Istimewa)

STRATEGI.ID – Di tengah proses pemulihan ekonomi nasional (PEN), pemerintah berencana menaikan cukai hasil tembakau (CHT) atau cukai rokok pada 2022 mendatang. Tiga Akademisi dari tiga perguruan tinggi ternama, Universitas Indonesia (UI) Eugenia Mardanugraha, Universitas Gadjha Mada (UGM) AB Widyanta serta Universitas Hasanuddin (Unhas) Yahya menilai kebijakan tersebut tidak tepat, dan meminta pemerintah menunda kebijakan itu.

Upaya konkret untuk mendorong pemulihan dan pertumbuhan kinerja sektor industri hasil tembakau (IHT), pemerintah justru diharapkam menunjukan keberpihakan kepada petani dan buruh dengan melakukan penundaan kenaikan cukai rokok dan harga di pasaran. Penundaan tersebut diharapkan berdampak pada kestabilan IHT, setelah itu barulah kebijakan tersebut bisa diberlakukan.

Baca Juga: Hari Tani Nasional 2021, Kabareskrim Polri: Profesi Petani Harus di Hormati

Ekonom UI, Eugenia menyampaikan pada pasa pendemi COVID 19 negara memang membutuhkan penerimaan yang salah satunya dari cukai rokok untuk mendukung program PEN. Namun seharusnya pemerintha tak sekadar berfokus pada penerimaan. Berapapun besarnya kenaikan cukai rokok, tidak akan membantu menutupi defisit pada masa pendemi seperti sekarang ini.

Eugenia berpendapat cukai rokok begitu besar di dapat negara selama ini, seharusnya ada bagi hasil. Utamanya harus bermanfaat bagi petani, buruh, pekerja, hingga konsumen tembakau

“Sehingga ada jaminan bahwa petani sejahtera karena dari cukai. Pemerintah sudah merasakan penerimaan besar, sudah saatnya petani dan buruh merasakan cukainya. Masa dari target penerimaan negara dari cukai sebesar Rp203,9 triliun pada 2022 tidak bisa dikembalikan kepada petani, buruh, dan konsumen.” ujar Eugenia dalam diskusi daring AMTI Berdiskusi: Cukai dan Eksistensi IHT, Bagaimana Suara Akademisi? pada Kamis malam (23/09/21).

Baca Juga: Lepas 1.500 Tukik di Cilacap, Jokowi: Agar Tidak Punah

Pada kesempatan yang sama, Sosiolog UGM Widyanta berpendapat berapa pun besaran cukai rokok yang diterapkan, pemerintah selalu abai terhadap perjuangan para petani tembakau

“Mau petani komoditas makanan, termasuk petani tembakau, tidak pernah disentuh oleh pemerintah. Pemerintah harus melihat potensi, bukan hanya melihat keuntungan untuk menutup defisit ekonomi. Petani juga butuh didampingi dalam manajemen pertanian, misalnya dari sisi grading dan penjualan,” tutur Widyanta.

Halaman:

Editor: Suriel Tauruy

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Pengusaha Kritik Mangkraknya Lahan PRPP Jawa Tengah

Selasa, 19 Oktober 2021 | 18:55 WIB

Menparekraf Buka ‘Tour de Gayo’ Di Aceh

Senin, 18 Oktober 2021 | 11:00 WIB

Padangsidimpuan Meraih Penghargaan Kota Layak Anak

Minggu, 17 Oktober 2021 | 22:40 WIB
X