• Minggu, 23 Januari 2022

Desember Masuk Window Dressing, Varian Omicron Bikin Ketar-Ketir Investor

- Rabu, 1 Desember 2021 | 14:00 WIB
Fenomena window dressing di bulan Desember menjadi ladang cuan bagi investor (Pexels/Monstera)
Fenomena window dressing di bulan Desember menjadi ladang cuan bagi investor (Pexels/Monstera)

STRATEGI.ID - Masuk bulan Desember saatnya untuk berburu cuan di saham blue chip. Namun, kini masyarakat tengah was-was dengan hadirnya virus COVID-19 varian Omicron yang baru saja ditemukan.

Biasanya para investor ritel pada Desember ramai-ramai memenuhi pasar untuk bisa mendulang keuntungan di pergantian tahun nanti.

Istilah window dressing sendiri terjadi oleh aktivitas para fund manager untuk mempercantik portofolio dengan membeli saham pada perusahaan-perusahaan blue chip.

Baca Juga: Prediksi Line-Up Liga Inggris MU vs Arsenal, Kapten Setan Merah Siap Redam Lacazette

Dampak dari adanya window dressing ini, IHSG akan ikut bergerak naik sehingga akan masuk menjadi fenomena 'Desember Hijau'.

Bukan hanya di Desember, namun bulan Januari pun bisa terkena efek tersebut, sehingga biasanya disebut juga sebagai January Effect.

Melihat histori dari IHSG secara year-to-year misalkan antara 2019 dan 2020, IHSG memiliki kenaikan sebesar 1,74%, padahal tahun 2020 sedang dilanda pandemi COVID-19.

Baca Juga: Prediksi Line-Up Liga Inggris MU vs Arsenal, Kapten Setan Merah Siap Redam Lacazette

Jika dilihat kembali dalam 10 tahun terakhir, harga IHSG selalu positif dengan rata-rata nilainya di angka 3,23%.

Tetapi saat ini, ada beberapa poin penting yang bisa saja menjegal sentimen positif menjelang akhir tahun 2021.

Virus COVID-19 varian Omicron menjadi salah satu penjegal IHSG bergerak naik. Varian Omicron ini menurut WHO lebih mudah menular dibandingkan dengan yang pertama kali maupun varian Delta.

Baca Juga: Mobil Brand Luar, Made in Indonesia: Laku di Pasar Dunia 

Hal ini ditunjukkan dengan pengumuman dari WHO pada minggu kemarin bahwa ditemukannya varian baru di Afrika Selatan. Secara kompak, bursa pasar mengalami penurunan, termasuk di Indonesia.

Namun, terdapat indikator yang bisa menguatkan menjadi sentimen positif, yaitu dengan hadirnya vaksin mRNA yang saat ini masih diuji agar bisa menjinakkan varian Omicron.

Langkah antisipasi yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia saat ini adalah dengan memberlakukan pembatasan mobilisasi menjelang Nataru.

Baca Juga: Sejumlah Pihak Apresiasi Tindakan Kepolisian Tidak Memberikan Izin Keramainan Pelaksanaan Reuni 212

Poin ini pun bisa menjadi faktor penghambat lajunya ekonomi di Indonesia. Wilayah DKI Jakarta sudah menerapkan PPKM level II yang berlaku hingga 13 Desember 2021.

Selanjutnya, PPKM level III akan diterapkan untuk wilayah Jawa dan Bali sebagai antisipasi penyebaran virus COVID-19 dan menekan mobilisasi masyarakat.

Apabila tidak terjadi kejadian yang serupa seperti pertengahan tahun lalu, diyakini harga saham akan terus naik ke zona hijau.

Baca Juga: 5 Bahaya Mie Instan bila Dimakan Terlalu Sering, bisa menimbulkan Penyakit Diabetes

Terlepas dari adanya varian Omicron dan penetapan PPKM, window dressing di tahun ini tetap akan menarik bagi para investor ritel.

Tanpa disadari, bukan hanya para manager investasi yang memborong saham blue chip, melainkan masyarakat pun sama-sama membuat window dressing ini bisa terjadi.

Semoga di bulan Desember ini, window dressing bisa tercipta agar bisa meraup cuan bagi para investornya serta menjaga kestabilan ekonomi bangsa.***

Editor: Bernadetha Inggar

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Jokowi Sampaikan Sikap Indonesia untuk Kasus Myanmar

Minggu, 23 Januari 2022 | 13:30 WIB

M Achadi Rektor UBK Di Era Presiden Soekarno

Sabtu, 22 Januari 2022 | 11:30 WIB
X