• Jumat, 20 Mei 2022

SMSI Kecam Keras Penembakan Wartawan Al Jazeera, Setelah Hari Kebebasan Pers se Dunia

- Jumat, 13 Mei 2022 | 14:00 WIB
Wartawan Al-Jazeera Shireen Abu Akleh ditembak saat meliput , hingga Respon Israel atas Peristiwa tersebut/ Wartawan Al Jazeera Shireen Abu Akleh ditembak / al-Jazeera (Ist)
Wartawan Al-Jazeera Shireen Abu Akleh ditembak saat meliput , hingga Respon Israel atas Peristiwa tersebut/ Wartawan Al Jazeera Shireen Abu Akleh ditembak / al-Jazeera (Ist)

STRATEGI.ID - Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) mengecam keras peristiwa penembakan wartawan yang diduga dilakukan oleh tentara Israel di tenda pengungsi di kota Jenin, Tepi Barat (West Bank) yang diduduki Israel.

Wartawan yang ditembak mati tentara Israel adalah Shireen Abu Akleh (51) dari Al Jazeera yang sedang meliput serangan tentara Israel di lokasi pengungsian di Jenin.

Padahal saat itu Shireen mengenakan rompi bertuliskan “PRESS” dan mengenakan helm. Mestinya, tentara Israel tahu dia wartawan yang tengah bertugas.

Baca Juga: Mau Terbang Aman? Simak 13 O[perasional Prosedur Keselamatan Penerbangan yang Wajib Anda Ikuti

Pihak militer Israel sempat menolak tuduhan penembakan wartawan tersebut. Bahkan militer Israel menuding Palestina yang melakukan penembakan.

Namun Kepala Biro Al Jazeera Walid Al-Omary di Ramallah menerangkan, tidak ada penembakan oleh orang-orang bersenjata di Palestina.

“Itu tindakan teror besar terhadap wartawan. Jelas itu tindakan biadab terhadap wartawan yang bertugas untuk kepentingan umum. Penembak jelas melawan hak asasi manusia yang melindungi wartawan, dan sekaligus melecehkan pers seluruh dunia yang baru saja memperingati Hari Kebebasan Pers se-Dunia", ujar Ketua Umum Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Firdaus, Kamis, 12 Mei 2022 dalam siaran pers menanggapi penembakan wartawan di Tepi Barat.

"Kami minta Persatuan Bangsa-Bangsa memberi perhatian khusus pada kasus penembakan wartawan tersebut,” lanjutnya.

Baca Juga: KTT AS-ASEAN: AS Tegaskan Komitmen pada Negara-negara di Asia Tenggara

Menurut Firdaus, apa yang dilakukan tentara terhadap wartawan Shireen jelas melanggar Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM) tahun 1948.

Pasal 19 DUHAM menyatakan, “Setiap orang berhak atas kebebasan mempunyai dan mengemukakan pendapat; dalam hal ini termasuk kebebasan menganut pendapat tanpa mendapat gangguan, dan untuk mencari, menerima, dan menyampaikan informasi dan gagasan melalui media apa pun dan tidak memandang batas-batas”.

Halaman:

Editor: Bobby San

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Mahasiswa Serukan Berantas Oligarki

Kamis, 19 Mei 2022 | 21:45 WIB
X