• Senin, 20 September 2021

Pengamat Menilai Pasangkan Anies-AHY Adalah Strategi Adu Domba Jegal Prabowo

- Minggu, 29 Juli 2018 | 11:19 WIB
Prabowo Subianto temui Ketua Umum Partai Demokrat SBY jelang pemilu 2019
Prabowo Subianto temui Ketua Umum Partai Demokrat SBY jelang pemilu 2019

‎Wacana memasangkan Anies Baswedan - Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), yang belakangan semakin kencang, dinilai sebagai strategi adu domba, untuk menjegal langkah Prabowo Subianto maju bertarung dalam pemilihan presiden (Pilpres) 2019 mendatang.

Demikian diungkapkan oleh pengamat politik, yang juga merupakan Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR), Ujang Komarudin.

"Ini strategi adu domba, untuk menjegal Prabowo. Harapannya, membuat Prabowo tertekan, seh‎ingga kemudian mau menyerahkan tiket calon presiden (Capres) ke orang lain," kata Ujang, dalam keterangan tertulis, Sabtu (28/7/2018).

Menurut dia, wacana itu sengaja dihembuskan secara kencang oleh kubu tim capres lain, guna memecah kekuatan lawan.

‎Di sisi lain, jika Prabowo (yang telah secara bulat diusung Gerindra sebagai capres) bersedia menyerahkan tiket capres kepada Anies, proses pencalonan Gubernur DKI Jakarta itu juga tak akan mulus.

Sebab, untuk dapat maju sebagai capres maupun calon wakil presiden (Cawapres), kepala daerah atau wakilnya, harus mendapat izin Presiden. Hal ini tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) 32/2018.

"Artinya, bisa saja Anies akan terhambat oleh aturan itu," sambung pengamat dari Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) itu.

Menurut Ujang, Pasal 29 ayat 1 PP 32/2018 menyebutkan, 'Gubernur - Wakil Gubernur, Bupati - Wakil Bupati, Walikota - Wakil Walikota, yang akan dicalonkan oleh partai politik peserta pemilu sebagai Calon Presiden atau Calon Wakil Presiden harus meminta ini kepada Presiden'.

"Strategi adu domba ini untuk menjatuhkan Prabowo dan Anies sekaligus," tegas Ujang

Menurut dia, ‎saaat ini yang berpotensi menjadi lawan tangguh Jokowi di Pilpres 2019 sebagai Capres hanya Prabowo dan Anies. Oleh karena itu, kedua tokoh tersebut harus dikunci dan dijatuhkan agar kekuatannya semakin melemah.

"Sehingga, kelak siapapun yang akan maju menantang Jokowi, baik Prabowo atau Anies, akan sulit menang melawan Jokowi," terang dia.

Kendari demikian, Ujang menilai, Prabowo adalah satu-satunya calon yang paling realistis didorong untuk melawan Jokowi.

Ini menimbang hanya popularitas dan elektabilitasnyalah yang mampu mengimbangi kekuatan Jokowi di Pilpres 2019.

"Dengan asumsi koalisi Gerindra, PAN dan tentunya ditambah Demokrat yang solid, mestinya tak ada lagi kekhawatiran Prabowo akan kalah dalam rematch," sambungnya.

Dia juga menilai, bergabungnya Demokrat dalam koalisi Gerindra menambah kekuatan yang cukup signifikan. Ini, tak bisa dilepaskan dari figur Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang pernah berkuasa selama 10 tahun.

‎"SBY itu pernah memimpin negeri ini selama dua periode, sedikit banyak beliau tahu dan menguasai peta pemenangan untuk Piplres 2019 nanti," kata Ujang.

Mempertimbangkan berbagai hal di atas, menurut dia, pasang capres - cawapres yang akan bertarung pada Pilpres mendatang adalah Prabowo Subianto berpasangan dengan Komandan Satuan Tugas Bersama (Kogasma) Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudoyhono (AHY).

Sumber:  tribunjateng.com

Editor: Danar Priyantoro

Tags

Terkini

Difitnah, Youtuber Atta Halilintar Lapor Polisi

Minggu, 19 September 2021 | 08:00 WIB

Bamsoet: Cintailah dah Belilah Produk Dalam Negeri

Sabtu, 18 September 2021 | 15:45 WIB
X