• Selasa, 25 Januari 2022

Jejak Perjuangan Sang Karismatik Jenderal Sudirman

- Kamis, 4 November 2021 | 12:00 WIB
Mengenal sosok jenderal Karismatik Sudirman  sebagai Panglima pertama TNI (freepik )
Mengenal sosok jenderal Karismatik Sudirman sebagai Panglima pertama TNI (freepik )
STRATEGI.ID -Dalam catatan sejarah perjuangan bangsa Indonesia Jenderal Sudirman merupakan salah satu pahlawan yang sangat dikagumi.
 
Jenderal Sudirmana memperoleh Jabatatan  tingkat tinggi utama dalam sejarah kemiliteran Indonesia.

Jenderal Sudirman  memilih masuk hutan untuk bergeliria melawan para pasukan Belanda yang ingin merebut kemerdekaan Bangsa Indonesia.
 
 
Sosok Jenderal Sudirman dikenal  sebagai Jenderal karismatik  serta  sebagai seseorang yang selalu memilih setia terhadap bangsa dan pemimpinnya.

Sebuah biografi Jendral Sudirman 

Jendral Sudirman atau yang dikenal Raden Sudirman,lahir di kota Purbalingga 24 Januari 1916,sudirman merupakan anak dari pasangan karsid kartariwaji dan siyem. Karsid merupakan pekerja diperkebunan tebu,namun sayang disana terdapat pengurangan pekerja,sehingga membuat karsid kehilangan pekerjaannya,karena keterbatasan ekonomi akhirnya karsid tinggal dirumah Ajeng turidawati kakak dari siyem, yang diperistri oleh Raden Cokrosunaryo seorang camat di Rembang, bodaskarangjati Purbalingga.

Pemberian nama Sudirman merupakan pemberian dari Raden Cokrosunaryo yang pada saat itu mengangkat Sudirman sebagai anak angkatnya. Setelah Cokrosunaryo pensiun dari camat sudirman dibawa keluarganya ke Cilacap, kemudian pada tahun 1923-1930 sudirman sekolah di Hollandsch-inlandsche school (HIS). Tidak lama kemudian Sudirman dipindahkan ke sekolah menengah milik Taman Wisata Siswa yang kemudian melanjutkan pendidikan di MULO yang ada di Banyumas.
 
Baca Juga: Insiden Surabaya 10 November 2018, Ini 4 Fakta yang Terungkap

Kesadaran dalam pentingnya berorganisasi dalam mengembangkan ilmu agamanya, Sudirman muda, aktif berorganisasi di Muhammadiyah. Dalam berorganisasi di Muhammadiyah beliau pernah menjadi pemimpin Hizbul Wathan dan kepanduan Muhammadiyah Banyumas.

Bagi Sudirman, berorganisasi adalah suatu pengabdian bukan tempat mencari penghidupan.Beliau kadangkala lebih mengutamakan kepentingan organisasi daripada keluarga, karena itulah kendati menjadi pemimpin rumah tangganya serba kekurangan.
 
 
Suatu kesadaran pentingnya pendidikan bagi generasi muda, sudirman juga aktif sebagai guru disekolah. Dalam catatan biografi Sudirman prajurit teladan mencatat ; Beliau aktif sebagai guru di HIS Muhamadiyah, Cilacap.
 
Sudirman menjadi guru bukan semata-mata karena kekurangan, beliau bisa saja mencari pekerjaan yang gajinya lebih besar mengingat pada saat itu Sudirman cukup populer sebagai pemimpin pemuda Muhammadiyah, beliau adalah sosok guru yang sangat dikagumi oleh murid-muridnya karena dari cara mengajarnya yang sangat menyenangkan, bahkan dia dijuluki ' guru kecil ' karena diandalkan gurunya untuk membantu teman-temannya yang sedang kesulitan dalam pelajaran.

Seiring berjalannya waktu saat awal masa penjajahan Jepang, sudirman terpaksa meninggalkan pekerjaan yang dicintainya sebagai seorang guru dan saat itu situasinya tidak memungkinkan mengajar pendidikan karena semua orang terpusat pada serangan Jepang.
 
 
Setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945, Sudirman melarikan diri dari pusat penahanan, kemudian pergi ke Jakarta untuk bertemu dengan Presiden Soekarno.
 
Sudirman ditugaskan untuk mengawasi proses penyerahan diri tentara Jepang di Banyumas, yang dilakukannya setelah mendirikan divisi lokal Badan Keamanan Rakyat. Pasukannya lalu dijadikan bagian dari Divisi V pada 20 Oktober oleh panglima sementara Oerip Soemohardjo, dan Soedirman bertanggung jawab atas divisi tersebut.
 
Pada tanggal 12 November 1945, dalam sebuah pemilihan untuk menentukan panglima besar TKR sebagai cikal bakal TNI  di Yogyakarta, Sudirman terpilih menjadi panglima besar, sedangkan Oerip, yang telah aktif di militer sebelum Sudirman lahir, menjadi kepala staff.
 
Sembari menunggu pengangkatan, Sudirman memerintahkan serangan terhadap pasukan Inggris dan Belanda di Ambarawa. Pertempuran ini dan penarikan diri tentara Inggris menyebabkan semakin kuatnya dukungan rakyat terhadap Soedirman, dan ia akhirnya diangkat sebagai panglima besar pada tanggal 18 Desember.
 
 
Selama tiga tahun berikutnya, Sudirman menjadi saksi kegagalan negosiasi dengan tentara kolonial Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia, yang pertama adalah Perjanjian Linggarjati – yang turut disusun oleh Soedirman – dan kemudian Perjanjian Renville yang menyebabkan Indonesia harus mengembalikan wilayah yang diambilnya dalam Agresi Militer I kepada Belanda dan penarikan 35.000 tentara Indonesia.
 
Ia juga menghadapi pemberontakan dari dalam, termasuk upaya kudeta pada 1948. Ia kemudian menyalahkan peristiwa-peristiwa tersebut sebagai penyebab penyakit tuberkulosis-nya; karena infeksi tersebut, paru-paru kanannya dikempeskan pada bulan November 1948.

Pada tanggal 19 Desember 1948, beberapa hari setelah Sudirman keluar dari rumah sakit, Belanda melancarkan Agresi Militer II untuk menduduki Yogyakarta. Pada saat pemimpin-pemimpin politik berlindung di kraton sultan, Soedirman, beserta sekelompok kecil tentara dan dokter pribadinya, melakukan perjalanan ke arah selatan dan memulai perlawanan gerilya selama tujuh bulan.
 
Awalnya mereka diikuti oleh pasukan Belanda, tetapi Sudirman dan pasukannya berhasil kabur dan mendirikan markas sementara di Sobo, di dekat Gunung Lawu. Dari tempat ini, ia mampu mengomandoi kegiatan militer di Pulau Jawa, termasuk Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta, yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Soeharto.
 
Ketika Belanda mulai menarik diri, Sudirman dipanggil kembali ke Yogyakarta pada bulan Juli 1949. Meskipun ingin terus melanjutkan perlawanan terhadap pasukan Belanda, ia dilarang oleh Presiden Soekarno.
 
Penyakit TBC yang diidapnya kambuh; ia pensiun dan pindah ke Magelang. Sudirman wafat kurang lebih satu bulan setelah Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta.
 
 
Kematian Sudirman menjadi duka bagi seluruh rakyat Indonesia. Bendera setengah tiang dikibarkan dan ribuan orang berkumpul untuk menyaksikan prosesi upacara pemakaman. Soedirman terus dihormati oleh rakyat Indonesia.
 
Perlawanan gerilyanya ditetapkan sebagai sarana pengembangan esprit de corps bagi tentara Indonesia, dan rute gerilya sepanjang 100-kilometer (62 mi) yang ditempuhnya harus diikuti oleh taruna Indonesia sebelum lulus dari Akademi Militer.
 
Sudirman ditampilkan dalam uang kertas rupiah keluaran 1968, dan namanya diabadikan menjadi nama sejumlah jalan, universitas, museum, dan monumen. Pada tanggal 10 Desember 1964, ia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.***
 

Editor: Antonius Danar

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Soekarno Tahanan Politik Kolonial

Minggu, 23 Januari 2022 | 18:31 WIB

Soekarno Dan RUDN Persembahan Untuk Dunia

Jumat, 21 Januari 2022 | 22:05 WIB

Mengenal Karya Intelektual Ubedilah Badrun

Rabu, 12 Januari 2022 | 11:30 WIB

Tokoh Resolusi Jihad, Sang Ulama Pemikir - Pejuang

Senin, 20 Desember 2021 | 21:50 WIB

Kisah Cinta Bung Karno Dengan Bunga-bunga Revolusi

Rabu, 10 November 2021 | 18:25 WIB

Perjuangan Heroik Moestopo Menjadi Pahlawan Nasional

Rabu, 10 November 2021 | 16:00 WIB

Tokoh Resolusi Jihad, Sang Ulama Pemikir - Pejuang

Rabu, 10 November 2021 | 15:05 WIB

Sejarah Pahlawan Revolusi Nasional Jenderal Soedirman

Rabu, 10 November 2021 | 11:10 WIB

Profil Ismail Marzuki Yang Tampil di Google Doodle

Rabu, 10 November 2021 | 09:00 WIB
X