• Jumat, 20 Mei 2022

Soekarno Dan RUDN Persembahan Untuk Dunia

- Jumat, 21 Januari 2022 | 22:05 WIB
Presiden Soekarno atau Bung karno yang sering mengunakan bahasa sunda dalam pidato pidatonya (Istimewa)
Presiden Soekarno atau Bung karno yang sering mengunakan bahasa sunda dalam pidato pidatonya (Istimewa)

STRATEGI.ID - 5 Februari 1960 menjadi hari bersejarah bagi sebuah Universitas ternama di Rusia, Universitas tersebut ialah Universitas Persahabatan Bangsa-bangsa atau yang dalam bahasa Rusia dikenal dengan nama RUDN (Rossisski Universitet Druzhbi Narodov). Menurut para alumni yang saya temui saat Dies Natalis RUDN ke-55 di PKR (Pusat Kebudayaan Rusia) Jakarta, RUDN diresmikan langsung oleh Perdana Menteri Nikita Krushchev.

Di awal di dirikannya RUDN menampung kurang lebih 2081 Mahasiswa (1960) dari seluruh penjuru dunia, terutama dari negara-negara Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Di antara 2081 Mahasiswa tersebut 30 orang diantaranya adalah Mahasiswa asal Indonesia, yang merupakan angkatan pertama di RUDN. Salah satunya ialah Koesalah Soebagyo Toer, adik kandung dari sastrawan dan penulis terkenal Pramoedya Ananta Toer.

Koesalah juga merupakan seorang yang tidak asing lagi dalam dunia sastra tanah air, ia merupakan sastrawan yang telah menerjemahkan karya sastra dari sastrawan asal Rusia abad ke-19 seperti Anton Chekov dan Leo Tlostoy. Karya Tolostoy yang merupakan karya sastra terkenal dalam peradaban sastra barat yang berjudul “Perang dan Damai” juga telah diterjemahkan oleh Koesalah ke dalam bahasa Indonsia. Sebuah kebanggaan tersendiri bagi saya bisa duduk berhadapan dengan saksi sejarah dan sastrawan yang menjadi kebanggaan rakyat Indonesia juga dengan alumni RUDN.

Baca Juga: Kisah Soekarno di 'Endorse' Pedagang Kain Bandung Saat Pembuangan di Ende

Lebih membanggakan lagi ketika salah satu alumni angkatan muda bernama Yunita Umniyati yang lulus program PhD atau Doktor dalam bidang ilmu fisika bercerita kepada kami tentang pengalamannya saat menempuh program Magister dan Doktoralnya di RUDN. Ia bercerita saat selesai sidang mahasiswa dan para professor penguji mendakan makan malam bersama. Saat makan malam itu ketua dari para professor penguji menanyakan pada dirinya, apakah ia mengetahui Soekarno. Dengan sepontan ia menjawab “o iya, itu presiden pertama saya, itu presiden pertama kami”. Lalu sang professor melanjutkan perkataannya dengan mengatakan “ kamu tau tanpa Soekarno, RUDN itu tidak pernah ada”

Ini jelas membuat Yunita terkejut, lalu sang professor menjelaskan kepadanya bagaimana peran Soekarno hingga berdirinya RUDN. Ini menimbulkan rasa bangga dalam hatinya, ditambah lagi dalam makan malam tersebut terdapat mahasiswa lain dari seluruh penjuru dunia yang berada dalam makan malam tersebut dan mendengar apa yang dikatakan professor tersebut. Sebagi anak yang mengagumi sosok Soekarno, mendengar cerita tersebut dalam hati saya juga merasa bangga.

Kebanggaan itu bertambah setelah mengetahui bahwa mayoritas Mahasiswa yang belajar di RUDN datang dari negara-negara dunia ketiga di kawasan Asia, Afrika, dan Latin Amerika. Ini menunjukan bahwa Soekarno memiliki visi jauh kedepan yaitu membangun Indonesia dan negara-negara dunia ketiga untuk mampu bersaing dengan negara-negara yang telah lebih dahulu maju dalam bidang ilmu sosial dan sains serta teknologi agar terciptanya kesetaraan pada tatanan dunia (World Order).

Baca Juga: Respon Permintaan Warga Sidoarjo, Puti Guntur Soekarno Pasok 3.000 Dosis Vaksin

Kedekatan Soekarno dengan Krushchev yang saat itu merupakan pemimpin salah satu negara besar Uni Soviet membuka peluang bagi beliau untuk memberikan sumbangsih dalam bidang pendidikan bagi negara-negara yang memiliki nasib yang sama dengan Indonesia. mendengar cerita dari para alumninya RUDN merupakan salah satu buah tangan dari sang proklamator  Republik Indonesia Ir.DR. Soekarno dalam bidang pendidikan. Kini lebih dari 300 mahasiswa Indonesia tercatat sebagai alumni RUDN per-tahun 2000, dan juga alumni dari RUDN berhasil menepati jabatan penting pada perusahan-perusahan besar dunia dan juga jabatan penting pemerintahan mulai dari duta besar (orang no dua di kedutaan besar Kazaztan di Indonesia ialah alumni RUDN) hingga presiden. (Amos Sury El Tauruy, S.Sos . M.A.P)***

Halaman:

Editor: Martinus Yenn

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Soekarno Tahanan Politik Kolonial

Minggu, 23 Januari 2022 | 18:31 WIB

Soekarno Dan RUDN Persembahan Untuk Dunia

Jumat, 21 Januari 2022 | 22:05 WIB

Mengenal Karya Intelektual Ubedilah Badrun

Rabu, 12 Januari 2022 | 11:30 WIB

Tokoh Resolusi Jihad, Sang Ulama Pemikir - Pejuang

Senin, 20 Desember 2021 | 21:50 WIB

Kisah Cinta Bung Karno Dengan Bunga-bunga Revolusi

Rabu, 10 November 2021 | 18:25 WIB

Perjuangan Heroik Moestopo Menjadi Pahlawan Nasional

Rabu, 10 November 2021 | 16:00 WIB
X