• Minggu, 28 November 2021

'HOEGENG' dan Polisi Baik

- Rabu, 14 Oktober 2020 | 13:00 WIB
IMG-20201014-WA0107
IMG-20201014-WA0107

STRATEGI.ID - Hari ini, 14 Oktober 1921, adalah hari kelahiran tokoh hebat: Hoegeng Iman Santoso, Kapolri ke-5, sosok yang menjadi patron -suri tauladan- kejujuran tidak saja bagi Kepolisian tapi juga kita.

Kokoh pada pendirian dan jujur. Adalah dua hal yang tak bisa ditawar pada pria kelahiran Pekalongan ini.

Baca Juga: PKS Puji Jokowi Izinkan Kapolri Rekrut 56 Pegawai KPK ke Polri

Beliau adalah lulusan angkatan pertama, semua 15 orang, Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK). Saat pelantikan namanya bikin bingung Presiden Soekarno:
"Soegeng?"
"Hoegeng, Pak"
Nama yang 'aneh' , bukan nama Jawa.

Secara seloroh Soekarno pun minta namanya diganti, "pakai saja dari nama pewayangan"

Hoegeng sebenarnya memiliki empat nama: Abdul Latif (pemberian teman ayah seorang peramal Arab), Hoegeng Iman Santoso (pemberian ayah), Hoegeng Iman Soedjono (pemberian Eyang Putri), dan Hoegeng Iman Waskito (pemberian nenek buyut, ibu dari Eyang Putri).

Baca Juga: Kapolri Listyo Sigit Instruksikan Anggotanya Humanis Saat Pengamanan Kunjungan Kerja Presiden

Dia memilih nama pemberian ayahnya: Hoegeng Iman Santoso. Namun, dia lebih suka memakai nama Hoegeng saja.

Ternyata, nama Hoegeng ada asal usulnya. Waktu kecil dia memiliki tubuh sangat gemuk. Maka, dia dijuluki si “bugel” (gemuk) seperti ubi. Namun, dalam panggilan sehari-hari berubah: dari “bugel” menjadi “bugeng” lalu “hugeng” (ejaan lamanya hoegeng).

“Rasanya (Hoegeng) sebuah nama yang meriah sekaligus lucu mengandung ironi,” kata Hoegeng. “Sebab dalam kenyataannya saya tak pernah lagi gemuk dan barang kali -juga- tak ingin.

Baca Juga: Komnas HAM: Fakta Enam Anggota Laskar FPI Tewas Ditembak Anggota Setelah Diduga Menyerang Polisi

Rentang tugasnya sebagai polisi dimulai 1944, setelah sempat mengenyam pendidikan militer ala Jepang.

Saat diangkat jadi Pangak (Panglima Angkatan Kepolisian) ia mengusulkan pada Presiden Soeharto agar nana jabatan itu diubah. Kepres no: 52, tahun 1969, mengubah Pangak jadi Kapolri.

Soal kejujuran ayah 3 anak ini tak bisa ditawar. Saat tugas di Medan ia mengembalikan semua perabot rumah tangga, mobil bahkan sepeda untuk anaknya dari oknum yang tidak ia kenal. Padahal, kalau mau, semua pemberian ini tak akan terlacak.

Baca Juga: SERI PEREMPUAN INDONESIA , Mengenal Sosok Ibu Sri Mulyani Indrawati dengan Berbagai Prestasi

Sosoknya mengingatkan pada sosok Mohammad Hatta, Wakil Presiden Pertama, yang merinci detil semua pengeluaran perjalanan dinas saat tugas ke New York, bahkan minum kopi pun ia catat!

Hoegeng juga tak ingin uang negara terpakai untuk keperluan pribadi. Juga semua pemberian atau hadiah dari luar harus dikembalikan sekecil apapun! Tak peduli si anak menangis ketika esok hari ia mencari sepeda barunya. Lurus ya tetap lurus.

Apa boleh buat, sikap inilah yang membuat ia terdepak. Saat marak penyelundupan mobil di awal 70-an, ia bersenggolan dengan bisnis haram lingkaran istana. 3.000 mobil berhasil diselundupkan masuk tanpa bea sepeserpun, dan Hoegeng hanya sempat mengamankan beberapa ratus sebelum akhirnya jabatannya malah lepas. Dan Roby Tjahyadi pun melenggang.

Ia menolak tawaran jadi dubes oleh Soeharto, karena Hoegeng tahu itu jabatan buangan, khas dimasa itu. Di masa pensiun ia lebih senang tampil secara berkala dalam acara The Hawaiian Seniors di TVRI.

Baca Juga: Mayor Udara Corinus Krey-Tokoh Pejuang Pembebasan Papua dan Pencetus Nama Irian Yang Hampir Terlupakan

Hoegeng sempat menandatangani Petisi 50, yang berisi 50 orang tokoh berintegritas yang mengkritisi pemerintahan Soeharto. Langkah Petisi 50 sangat elegan tidak gaduh seperti sekarang. Orang jadi bersimpati, meski tahu upaya ini akan kandas.

Lahir di tanggal 14, wafat di tanggal yang juga sama: 14 Juli 2004. Saat wafat pun Hoegeng tetap lurus dan kokoh, karena ia menyiapkan wasiat yang mengagetkan.

Halaman:

Editor: Bobby San

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Kisah Cinta Bung Karno Dengan Bunga-bunga Revolusi

Rabu, 10 November 2021 | 18:25 WIB

Perjuangan Heroik Moestopo Menjadi Pahlawan Nasional

Rabu, 10 November 2021 | 16:00 WIB

Tokoh Resolusi Jihad, Sang Ulama Pemikir - Pejuang

Rabu, 10 November 2021 | 15:05 WIB

Sejarah Pahlawan Revolusi Nasional Jenderal Soedirman

Rabu, 10 November 2021 | 11:10 WIB

Profil Ismail Marzuki Yang Tampil di Google Doodle

Rabu, 10 November 2021 | 09:00 WIB

Roehana Koeddos, Sosok Wanita Di Google Doodle

Selasa, 9 November 2021 | 18:45 WIB

Jejak Perjuangan Sang Karismatik Jenderal Sudirman

Kamis, 4 November 2021 | 12:00 WIB
X